Baca Juga: Gubernur Banten Andra Soni Tegaskan Forkopimda Solid Jaga Kamtibmas
Kesejahteraan Jurnalis yang masih menjadi isu klasik, dengan banyak pekerja media menghadapi ketidakpastian ekonomi.
Ancaman Kebebasan Pers yang tak jarang muncul dalam bentuk intimidasi maupun kriminalisasi.
“Pers nasional harus kembali ke khitahnya sebagai benteng demokrasi. Dan PWI punya tanggung jawab moral untuk memimpin jalan itu,” tegas seorang akademisi komunikasi dari Universitas Indonesia.
Menunggu Langkah Konkret
Pasca kongres, bola kini ada di tangan Munir. Ia harus membuktikan bahwa PWI masih relevan sebagai organisasi pers profesional, independen, dan berintegritas.
Jika Munir berhasil mengembalikan marwah PWI, sejarah akan mencatatnya sebagai pemimpin persatuan.
Baca Juga: Evaluasi MoU Terkait Penanganan Sampah Pandeglang dan Tangsel
Namun jika gagal, risiko terbesar adalah PWI semakin ditinggalkan oleh komunitas pers maupun masyarakat yang membutuhkan organisasi jurnalis yang kuat dan kredibel.
Kongres Persatuan memang sudah selesai, tetapi pekerjaan besar baru saja dimulai. Munir harus berani mengambil langkah tegas: menyatukan PWI, merestorasi kepercayaan publik, dan memastikan PWI kembali berperan sebagai garda terdepan dalam menjaga demokrasi Indonesia.
Kini, publik menunggu.
(***)
Artikel Terkait
Tragedi Ojol Affan Kurniawan: DPR RI Dituding Jadi Biang Kerok Benturan Rakyat dan Aparat
Doa untuk Almarhum Wina Armada dan Penandatanganan Pakta Integritas Warnai Pra-Kongres PWI 2025
Kongres Persatuan PWI 2025 Resmi Dibuka di Cikarang, Wamen Komdigi Dorong Konsolidasi dan Soliditas Pers Nasional
Tekankan Persatuan Wartawan, Nezar Patria: PWI Sebagai 'Kakak Tertua'
Kongres PWI 2025 di Cikarang: Atal S Depari dan Sihono MT Paparkan Visi Misi Calon Ketua Dewan Kehormatan