Baca Juga: Pajek Award Tangsel 2025, Wajib Pajak Padati Ballroom Swiss-Belhotel Serpong
Pernyataan tersebut, menurut Uten, bukan lahir dari kebencian, melainkan dari kecintaan terhadap Tangerang Selatan. Ia menegaskan, mengabaikan pengelolaan sampah sama dengan membiarkan kota melakukan “kebodohan kolektif” yang sulit dimaafkan oleh publik.
Uten mengingatkan, jika tidak segera ditangani secara serius dan terencana, sampah akan menjadi krisis ekologis dan sosial yang nyata. Ia bahkan mempersonifikasikan sampah sebagai simbol perlawanan terhadap kepemimpinan yang abai.
“Sampah itu seolah berkata: kami hanya mau dikelola oleh pemimpin yang otak dan hatinya bersih, bukan oleh mereka yang pikiran dan hatinya penuh sampah,” tulisnya menutup refleksi.
Baca Juga: Jeddah Terendam Banjir usai Diterpa Hujan Lebat hingga Angin Kencang, Bagaimana Kondisi di Makkah?
Pandangan Uten Sutendy menjadi alarm keras bagi Pemerintah Kota Tangerang Selatan agar segera menjadikan pengelolaan sampah Tangerang Selatan sebagai prioritas utama pembangunan kota, sebelum “bom” yang diperingatkan benar-benar meledak dan merugikan seluruh warga.
(***)
Artikel Terkait
Masak Ribuan Porsi Makan untuk Pengungsi Banjir Aceh, Influencer King Abdi Ceritakan Pilu Para Korban yang Kelaparan
Novel Baswedan soroti tentang banjir Sumatera dan kaitannya dengan tindak pidana korupsi
Muncul ‘Pasar Minyak Dadakan’ untuk Warga Bener Meriah dan Takengon Aceh yang Masih Terisolir
Gubernur Mualem Ungkap Tim Yang Didatangkan Dari China Belum Bekerja Maksimal
Momen Warga Tunjukkan Kondisi Rumah Usai Banjir Bandang di Sumatera, Lumpur Nyaris Tutup Pintu Masuk