Pantaskah Soeharto Dinobatkan Sebagai Pahlawan Nasional?

photo author
Radi Iswan, Bidik Tangsel
- Minggu, 9 November 2025 | 15:12 WIB

Baca Juga: Masih Proses Penyelidikan, Muncul Isu Terorisme dalam Insiden Ledakan di SMAN 72 Jakarta

Dengan demikian, kepahlawanan tidak hanya diukur dari hasil pembangunan, tetapi juga dari dimensi moralitas dan kemanusiaan.

Bagi pendukungnya, Soeharto adalah penyelamat republik. Setelah peristiwa G30S 1965, Soeharto tampil sebagai jenderal yang dianggap menyelamatkan negara dari ancaman komunisme. Ia menstabilkan situasi nasional dan memimpin transisi kekuasaan dari Soekarno menuju Orde Baru.

Tak dapat dipungkiri pada masa pemerintahannya, Indonesia meraih kemajuan pesat. Pertumbuhan ekonomi rata-rata 7% per tahun pada 1970–1980-an.

Swasembada beras (1984) yang diakui FAO. Pembangunan infrastruktur desa, jalan, waduk, dan sekolah melalui program Inpres dan Repelita. Peran penting Soeharto dalam pembentukan ASEAN (1967) dan diplomasi perdamaian regional.

Baca Juga: Datangi RS Islam Cempaka Putih, Pramono Anung Ungkap Kondisi Korban Ledakan SMAN 72 Jakarta

Soeharto membangun stabilitas yang memungkinkan Indonesia modernisasi. Banyak yang berargumen, tanpa Soeharto, Indonesia mungkin terjebak dalam kekacauan ideologis dan ekonomi.

Namun, di balik kejayaan itu, ada bayangan gelap yang panjang otoritarianisme. Pemerintahannya berdiri di atas represi dan ketakutan. Ratusan ribu orang terbunuh dalam penumpasan pasca-G30S, banyak di antaranya tanpa proses hukum.

Di era Orde Baru, demokrasi dikerdilkan, pers dibungkam, dan partai politik dikendalikan demi stabilitas kekuasaan. Kekuasaan Soeharto kemudian berubah menjadi dinasti keluarga dan kroni.

Transparansi Internasional menobatkannya sebagai pemimpin paling korup di dunia, dengan dugaan penyelewengan mencapai US$ 15–35 miliar.

Baca Juga: Shell Indonesia Luncurkan Shell Helix Ultra Baru: Inovasi Pelumas Premium dengan Teknologi PurePlus dan Komitmen Keberlanjutan

Kasus-kasus pelanggaran HAM seperti Timor Timur, Tanjung Priok, Talangsari, hingga Trisakti-Semanggi, menjadi noda sejarah yang tak bisa dihapus dengan beton dan beras.

Krisis moneter 1997–1998 akhirnya menelanjangi sistem ekonomi kroni Orde Baru dan menumbangkan kekuasaannya setelah 32 tahun. Rakyat menyebutnya “penguasa yang tumbang oleh rakyatnya sendiri.”

Pengajuan gelar pahlawan nasional bagi Soeharto memantik pro dan kontra. Pihak pro menilai Soeharto layak karena telah berjasa besar membangun ekonomi dan menjaga stabilitas, meningkatkan kesejahteraan rakyat di masa sulit dan memimpin Indonesia dari isolasi menuju modernitas.

Sedangkan pihak kontra menolak keras dengan alasan Soeharto melanggar prinsip moral kepahlawanan melalui korupsi dan pelanggaran HAM, gelar itu akan melukai korban Orde Baru dan mengaburkan makna keadilan sejarah dan pahlawan seharusnya memberi teladan, bukan menanamkan ketakutan.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Radi Iswan

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X