Sanggar Kamang Wangko Woloan Perkuat Pelestarian Sastra Lokal, Cetak Penulis Muda Lewat Pelatihan Kreatif di Tomohon

photo author
Radi Iswan, Bidik Tangsel
- Selasa, 21 Juli 2026 | 16:13 WIB
Kegiatan yang diprakarsai Sanggar Kamang Wangko Woloan dengan Armando Loho sebagai pelaksana
Kegiatan yang diprakarsai Sanggar Kamang Wangko Woloan dengan Armando Loho sebagai pelaksana

TOMOHON – Komitmen melestarikan bahasa dan sastra daerah terus diperkuat Sanggar Kamang Wangko Woloan melalui penyelenggaraan Pelatihan Kreatif Menulis Sastra Lokal yang berlangsung di Michinoeki "PAKEWA", Jalan Tomohon–Manado, Kelurahan Talete Dua, Kecamatan Tomohon Tengah, Kota Tomohon, Selasa (21/7/2026).

Kegiatan yang diprakarsai Sanggar Kamang Wangko Woloan dengan Armando Loho sebagai pelaksana itu dibuka oleh Kepala Balai Bahasa Provinsi Sulawesi Utara, Januar Pribadi.

Pelatihan ini ditujukan untuk meningkatkan kemampuan generasi muda dalam menulis karya sastra sekaligus memperkuat dokumentasi karya sebagai bagian dari pelestarian budaya lokal.

Baca Juga: PWI Minta Hotman Paris Hormati Martabat Wartawan, Tegaskan Kemerdekaan Pers Harus Dijaga

Dalam sambutannya, Januar Pribadi mengapresiasi konsistensi Armando Loho beserta Sanggar Kamang Wangko Woloan yang selama ini aktif bersinergi dengan Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa dalam berbagai program kesastraan.

Menurutnya, bantuan pemerintah kepada komunitas sastra tidak hanya berupa dukungan pendanaan, tetapi juga menjadi pemicu agar komunitas mampu berkembang dan mandiri.

"Bantuan ini bukan sekadar pemberian dana, tetapi menjadi stimulus agar organisasi atau komunitas mampu tumbuh dan mandiri. Tujuan akhirnya adalah kemandirian," ujar Januar.

Ia mengungkapkan, pada 2026 hanya terdapat satu komunitas di Sulawesi Utara yang menerima bantuan dari Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa. Penetapan penerima dilakukan melalui proses seleksi di tingkat pusat.

Baca Juga: Kejari Tangsel Serahkan Rp14,2 Miliar Rampasan Kasus Pinjol Ilegal FINMAS Cs ke Kas Negara

Januar juga menyoroti pentingnya dokumentasi karya sastra. Menurutnya, masih terbatasnya karya sastra lokal yang terdokumentasi menjadi tantangan besar dalam pengembangan literasi budaya, khususnya di kalangan generasi muda.

Ia berharap pelatihan tersebut mampu melahirkan karya-karya yang tidak hanya selesai ditulis, tetapi juga terdokumentasi sebagai rekam jejak kepengarangan.

Selain itu, Januar mendorong pembinaan kepenulisan dimulai sejak usia dini. Ia menilai konsistensi dalam berkarya akan melahirkan regenerasi sastrawan yang mampu menghasilkan karya secara berkelanjutan.

Dokumentasi karya, lanjutnya, memiliki nilai strategis karena menjadi salah satu syarat dalam pemberian apresiasi kepada sastrawan yang telah berkarya selama puluhan tahun.

 

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Radi Iswan

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X