TOMOHON – Komitmen melestarikan bahasa dan sastra daerah terus diperkuat Sanggar Kamang Wangko Woloan melalui penyelenggaraan Pelatihan Kreatif Menulis Sastra Lokal yang berlangsung di Michinoeki "PAKEWA", Jalan Tomohon–Manado, Kelurahan Talete Dua, Kecamatan Tomohon Tengah, Kota Tomohon, Selasa (21/7/2026).
Kegiatan yang diprakarsai Sanggar Kamang Wangko Woloan dengan Armando Loho sebagai pelaksana itu dibuka oleh Kepala Balai Bahasa Provinsi Sulawesi Utara, Januar Pribadi.
Pelatihan ini ditujukan untuk meningkatkan kemampuan generasi muda dalam menulis karya sastra sekaligus memperkuat dokumentasi karya sebagai bagian dari pelestarian budaya lokal.
Baca Juga: PWI Minta Hotman Paris Hormati Martabat Wartawan, Tegaskan Kemerdekaan Pers Harus Dijaga
Dalam sambutannya, Januar Pribadi mengapresiasi konsistensi Armando Loho beserta Sanggar Kamang Wangko Woloan yang selama ini aktif bersinergi dengan Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa dalam berbagai program kesastraan.
Menurutnya, bantuan pemerintah kepada komunitas sastra tidak hanya berupa dukungan pendanaan, tetapi juga menjadi pemicu agar komunitas mampu berkembang dan mandiri.
"Bantuan ini bukan sekadar pemberian dana, tetapi menjadi stimulus agar organisasi atau komunitas mampu tumbuh dan mandiri. Tujuan akhirnya adalah kemandirian," ujar Januar.
Ia mengungkapkan, pada 2026 hanya terdapat satu komunitas di Sulawesi Utara yang menerima bantuan dari Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa. Penetapan penerima dilakukan melalui proses seleksi di tingkat pusat.
Baca Juga: Kejari Tangsel Serahkan Rp14,2 Miliar Rampasan Kasus Pinjol Ilegal FINMAS Cs ke Kas Negara
Januar juga menyoroti pentingnya dokumentasi karya sastra. Menurutnya, masih terbatasnya karya sastra lokal yang terdokumentasi menjadi tantangan besar dalam pengembangan literasi budaya, khususnya di kalangan generasi muda.
Ia berharap pelatihan tersebut mampu melahirkan karya-karya yang tidak hanya selesai ditulis, tetapi juga terdokumentasi sebagai rekam jejak kepengarangan.
Selain itu, Januar mendorong pembinaan kepenulisan dimulai sejak usia dini. Ia menilai konsistensi dalam berkarya akan melahirkan regenerasi sastrawan yang mampu menghasilkan karya secara berkelanjutan.
Dokumentasi karya, lanjutnya, memiliki nilai strategis karena menjadi salah satu syarat dalam pemberian apresiasi kepada sastrawan yang telah berkarya selama puluhan tahun.
Artikel Terkait
Usai Sempat Ricuh di Pamulang, Yayasan Menangkan Gugatan Lawan Kemenag di PTUN
Rekomtek Salah, Jembatan Kencana Loka Bakal Dibongkar Total dan Didesain Ulang Melengkung di Atas Badan Jalan
Dispar dan KADIN Tangsel Sepakat Perkuat Promosi Pariwisata serta Ekonomi Kreatif Kota Tangsel
Dewan Pers Dorong Produk Jurnalistik Masuk UU Hak Cipta, Angin Segar bagi Keberlangsungan Media
Ketum FPRMI Tekankan Pentingnya Kode Etik Jurnalistik pada HUT Ke 3, Ajak Organisasi Pers Perkuat Kolaborasi