“Camat dan lurah kami minta aktif membina bank sampah. Yang dulu dianggap sepele, sekarang harus menjadi prioritas. Bank sampah justru menjadi solusi penting, terutama saat TPA mengalami pembatasan operasional,” katanya.
Menurut Pilar, persoalan sampah di Tangsel tidak hanya soal teknis pengangkutan, tetapi juga perilaku sebagian masyarakat yang masih membuang sampah sembarangan.
Dalam kondisi TPA yang terbatas, pengelolaan sampah berbasis komunitas melalui bank sampah dinilai menjadi solusi paling realistis dan berkelanjutan.
“Kawasan yang sudah memiliki bank sampah, RT dan RW-nya relatif lebih terkendali. Masalah besar justru muncul di wilayah yang belum tertata. Karena itu, bank sampah harus diperkuat dan diperluas,” pungkas Pilar.
Baca Juga: Viral Aduan Infak Masjid di SMPN 10 Tangsel, Kepsek Tegaskan Tak Pernah Wajib
Kunjungan tersebut diharapkan dapat memotivasi warga untuk semakin aktif memilah sampah dari sumbernya serta memperkuat peran Bank Sampah Tangsel sebagai ujung tombak pengelolaan lingkungan berbasis partisipasi masyarakat.
(***)
Artikel Terkait
Presiden Venezuela Nicolas Maduro Dituduh Pimpin Jaringan Narkotika, Tambah Deretan Tokoh yang Pernah Ditangkap AS
Pengamat: Nongkrong di Kantin Saat Jam Kerja Cermin Lemahnya Etos Disiplin ASN
Darurat Sampah Tangsel Diperpanjang, Benyamin Tegaskan Fokus Angkut Sampah hingga Penegakan Hukum
Pilar Saga Tegaskan Penanganan Banjir, Sampah, dan Kesehatan Jadi Prioritas Tangsel
Alumni Ungkap Dugaan Infak Wajib di SMPN 10 Tangsel, Sekolah Buka Suara