TPA Cipeucang: Berjuang di Tengah Keterbatasan
Meskipun dalam kondisi penuh, TPA Cipeucang belum ditutup dan tetap menjalankan operasional dengan sistem pengangkutan terbatas dan prioritas.
Petugas lapangan diinstruksikan untuk melakukan pemilahan titik-titik strategis agar distribusi sampah tetap berjalan meski tidak maksimal.
“Overkapasitas bukan alasan untuk menghentikan pelayanan. Kami terus bergerak dan mencari solusi, baik jangka pendek maupun jangka panjang,” tegas Desna.
Langkah Strategis: Kolaborasi Antarwilayah dan PSEL
Pemerintah Kota Tangsel tidak tinggal diam. Sebagai solusi jangka pendek, Pemkot tengah menjalin kerja sama dengan pemerintah daerah tetangga seperti Kabupaten Bogor, Kabupaten Tangerang, hingga Pandeglang.
“Kabupaten Pandeglang sudah memberi lampu hijau. Mereka memiliki dua TPA, Cigelam dan Kapokol, yang sedang kami jajaki melalui PKS (Perjanjian Kerja Sama),” tambah Desna.
Di sisi lain, proyek Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) mulai dirancang sebagai jawaban jangka panjang atas permasalahan sistemik pengelolaan sampah.
Namun proyek ini membutuhkan waktu paling tidak dua hingga tiga tahun hingga dapat beroperasi secara optimal.
Krisis sampah di Tangsel, khususnya di Pasar Cantik Ciputat, adalah potret nyata dari perlunya pembaruan sistem tata kelola lingkungan perkotaan.
Dibutuhkan sinergi antarlembaga, edukasi publik, dan percepatan implementasi teknologi pengelolaan sampah agar masalah ini tidak menjadi bencana ekologi yang lebih besar.
Artikel Terkait
Tragedi di Apartemen: Seorang Pria Ditemukan Tewas Diduga Bunuh Diri, Polisi Masih Selidiki Penyebab
Pemkot Tangsel Gencarkan Operasi Bersih di Pasar Cantik Ciputat: Edukasi Kebersihan dan Pengurangan Sampah Plastik Jadi Fokus
Transformasi Digital Pendidikan: SPMB 2025 SD Negeri di Tangsel Siap Dilaksanakan Online
DCKTR Tangsel Segera Bangun Infrastruktur Tangsel Mei 2025, Ada Gedung Farmasi hingga Sekolah
Kelurahan Terbaik: Benda Baru Raih Peringkat 2 se-Tangerang Selatan, Lurah Ajak Seluruh Elemen Terus Berinovasi