Festival Wanua Woloan 2025: 887 Tahun Menjaga Akar Budaya Minahasa

photo author
Radi Iswan, Bidik Tangsel
- Senin, 11 Agustus 2025 | 11:24 WIB

Woloan, Minahasa – Sabtu (9/8/2025), tanah leluhur Woloan kembali bergema oleh denting tradisi. Perayaan Festival Wanua Woloan 2025 menandai 887 tahun berdirinya Wanua Woloan, dengan tema besar “Merawat Akar, Menjaga Tradisi”.

Bagi masyarakat, ini bukan sekadar agenda tahunan, melainkan napas kehidupan yang meneguhkan identitas Minahasa di tengah arus modernisasi.

Prosesi Adat yang Sarat Makna

Pagi hari dibuka dengan ritual “Meresi Wanua”, yakni arak-arakan adat keliling kampung yang dipimpin Tonaas Frangky Wehantow bersama pasukan kawasaran Siow Pa Siowan. 

Baca Juga: Tangsel Open 2025: Kejuaraan Dayung Meriah di Situ Pondok Jagung, Targetkan Kelas Nasional hingga Internasional

Rute perjalanan dari Woloan Tiga hingga Woloan Satu Utara bukan sekadar penanda wilayah, tetapi simbol penjagaan batas sejarah dan spiritualitas komunitas.

Prosesi berlanjut ke “Zumeta” di situs Kampung Tua Katinggelan atau Amphitheater Woloan—lokasi sakral yang menjadi saksi awal peradaban Wanua. 

Di sini, generasi muda dan tua bertemu dalam satu ruang, menyatukan denyut masa lalu dan semangat masa kini.

Tak ketinggalan, ziarah ke Waruga Tingkulengdeng, makam leluhur penanda berdirinya Woloan, menjadi momen refleksi bahwa setiap pijakan di tanah ini adalah warisan perjuangan para pendahulu.

Baca Juga: Polisi Gagalkan Tawuran Massal di Serpong: 54 Remaja Diamankan, Senjata Tajam dan Bom Molotov Disita

Kuman Wangko: Makan Bersama, Merajut Persatuan

Malam harinya, tradisi “Kuman Wangko” menghadirkan makan bersama di atas daun. Sederhana, namun penuh makna filosofis: mempererat persaudaraan, menghormati leluhur, dan mengucap syukur atas berkah yang diterima.

“Selama akar ini kita rawat, identitas kita tidak akan goyah. Anak muda harus menjadi garda terdepan menjaga warisan ini,” ujar Tonaas Frangky Wehantow dengan nada tegas namun sarat pesan moral.

Ketua Sanggar Kamang Wangko Woloan, Armando Loho, menambahkan, “Kesederhanaan perayaan tidak mengurangi nilai budaya Minahasa. Justru di sinilah kita merasakan kemurnian tradisi. Pegang teguh akar budaya, maka identitas kita akan tetap kokoh meski diterpa arus globalisasi.”

 

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Radi Iswan

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X