“Camat dan lurah kami minta aktif membina bank sampah. Yang dulu dianggap sepele, sekarang harus menjadi prioritas. Bank sampah justru menjadi solusi penting, terutama saat TPA mengalami pembatasan operasional,” katanya.
Menurut Pilar, persoalan sampah di Tangsel tidak hanya soal teknis pengangkutan, tetapi juga perilaku sebagian masyarakat yang masih membuang sampah sembarangan.
Dalam kondisi TPA yang terbatas, pengelolaan sampah berbasis komunitas melalui bank sampah dinilai menjadi solusi paling realistis dan berkelanjutan.
“Kawasan yang sudah memiliki bank sampah, RT dan RW-nya relatif lebih terkendali. Masalah besar justru muncul di wilayah yang belum tertata. Karena itu, bank sampah harus diperkuat dan diperluas,” pungkas Pilar.
Baca Juga: Viral Aduan Infak Masjid di SMPN 10 Tangsel, Kepsek Tegaskan Tak Pernah Wajib
Kunjungan tersebut diharapkan dapat memotivasi warga untuk semakin aktif memilah sampah dari sumbernya serta memperkuat peran Bank Sampah Tangsel sebagai ujung tombak pengelolaan lingkungan berbasis partisipasi masyarakat.
(***)