PPT ini telah diselenggarakan oleh pemerintah sejak tahun 2015 dan dinilai mampu meningkatkan produksi komoditas pangan seperti padi, kedelai, dan jagung. PPT menekankan terkait sinergitas antar teknologi, selain itu juga pada penurunan emisi gas rumah kaca.
Dari segi kelestarian lingkungan, pertanian organik ini dinilai baik namun kurang efisien dari segi ekonomi karena dalam pelaksanaan pertanian organik memerlukan biaya yang lebih tinggi sehingga nilai jualnya juga tinggi.
Akibatnya daya beli masyarakat terhadap hasil dari pertanian organik masih kalah dengan pertanian konvensional biasa. Meskipun berdampak negatif terhadap lingkungan, pertanian konvensional menghasilkan produktivitas yang lebih tinggi dibandingkan dengan pertanian ramah lingkungan karena adopsi teknologi.
Berdasarkan penjelasan sebelumnya dapat disimpulkan bahwa kedua sistem pertanian memiliki kelebihan dan kelemahan masing-masing di masa industrialisasi saat ini.
Oleh karena itu, perlu adanya kegiatan pembangunan berkonsep pertanian berkelanjutan yang mampu mengakomodir kebutuhan peningkatan produksi dan efisiensi usaha tani dengan tetap menjaga kualitas lingkungan serta sumber daya lahan pertanian dalam aturan ekologis sehingga dapat memenuhi kecukupan pangan jangka panjang.
Adanya globalisasi dalam bidang teknologi diharapkan dapat dimanfaatkan sebijak mungkin tanpa mengabaikan kelestarian lingkungan terutama alih fungsi lahan hutan dalam bidang pertanian.
Hal ini bertujuan untuk menciptakan sistem pertanian yang ramah lingkungan, menjamin produk pertanian Indonesia dalam mendukung ketahanan pangan nasional, memasok kebutuhan hidup manusia secara berlanjut tanpa menimbulkan degradasi sumber daya alam, menciptakan lingkungan yang terpelihara, mendorong pemanfaatan bahan organik yang ramah terhadap lingkungan dan menjamin keberlangsungan usaha tani yang masuk ke pasar global sehingga mampu memberikan keuntungan ekonomi dalam tingkat sosial agar dapat dinikmati oleh generasi mendatang. (*)