Sejauh manakah keberadaan elite Tangsel memberi konstriubusi terhadap pencapaian prestasi di atas?
Setidaknya ada enam kelompok elite di Tangsel yang cukup berpengaruh.
Pertama, elite birokrasi. Kelompok ini sangat dominan dalam memainkan peran. Boleh jadi arah, bentuk, dan warna pembangunan kota selama ini adalah produk kelompok ini. Mereka menguasai hampir semua jaringan sumber kekuasaan dan permodalan hingga keberadaannya hampir- hampir untouchable, tak tersentuh. Seolah berjalan dan mempunyai cara berfikir serta selera tersendiri, bahkan memiliki hak klaim kebenaran sendiri dalam membentuk kota (termasuk klaim kebenaran atas segala prestasi yang diraih).
Dalam posisi seperti itu, segala saran, kritik, usulan yang disampaikan oleh banyak kelompok warga yang muncul di berbagai forum dan media massa, seringkali dianggap seperti angin lalu. Terkesan kekuasaan birokrasi yang dipegangnya seolah milik mereka.
Kedua, elite politik. Kelompok ini terorganisasi secara rapih dalam institusi partai politik dan di lembaga perwakilan rakyat (DPRD). Aktivitas mereka lebih banyak berafiliasi dan berkolaborasi dengan elite birokrasi hingga hubungannya dengan kelompok masyarakat dan elite lain sulit terjalin baik. Intensnya jalinan kolaborasi dengan elite birokrasi membuat para politisi partai politik dan anggota dewan merasa cukup nyaman untuk tidak berbuat maksimal menjalankan fungsinya sebgai kekuatan kontrol yang penting bagi pemerintah.
Ketiga, elite pengusaha. Tangsel adalah kota wirausaha. Begitu banyak para pengusaha kelas menengah atas bermukim di sini yang bisa disinergikan. Akan tetapi yang muncul ke permukaan adalah kelompok elite pengusaha lokal yang berafiliasi ke elite birokras. Lewat organisasi KADIN dan asosiasi mereka saling berbagi kue APBD dan APBN, hingga cenderung mandul dalam memainkan peran sebagai mitra sejajar dengan pemerintah dalam hal berbagi ide-ide dan gagasan kreatif tentang warna ekonomi dan bisnis pembangunan kota. Sebaliknya, mayoritas elite pengusaha menengah atas yang ada di wilayah cluster permukiman elite, lebih senang berafiliasi atau bermitra dengan pihak di luar Tangsel.
Keempat, elite intelektual kampus. Tangsel juga layak menjadi kota pendidikan, karena jumlah perguruan tinggi bertaraf nasional dan internasional tumbuh subur. Para intelektual berkelas tinggal di Tangsel. Sungguh potensi kekayaan sumber daya manusia yang penting bagi pembangunan. Lagi-lagi kelompok ini pun sebagian mengambil jarak dengan persoalan Tangsel. Energi dan kapasitas intelektual yang mereka miliki lebih banyak terfokus dan didistribusikan ke hal- hal lain di luar Tangsel. Mereka juga merasa asyik dengan dunia menara gadingnya di kampus-kampus ternama.
Kelima, elite budayawan dan seniman. Tangsel layak memperoleh predikat kota seniman dan budayawan, mengingat penggiat seni dan budaya kelas dunia pun banyak bermukim disini. Mereka menghasilkan banyak ragam karya film, seni rupa, seni lukis, musik, dan sastra, yang bisa pentas di panggung- panggung nasional dan internasional. Namun komunitas budayawan dan seniman yang tergabung dalam Dewa Kesenian Kota Tangsel (DKTS) justru kurang greget dan kesulitan menemukan elan vital karena seringkali terjadi disintegrasi dengan kebijakan pemerintah kota.