nasional

KDM Menuju 2029: Tak Perlu Melawan Prabowo, Menunggu Estafet Bisa Jadi Jalan Terbaik

Rabu, 2 September 2026 | 05:20 WIB
KDM telah berkembang menjadi figur yang layak diperhitungkan dalam pembicaraan mengenai kepemimpinan nasional.

Baca Juga: Polemik Yayasan Syarif Hidayatullah Memanas, Kuasa Hukum Laporkan Dugaan Pengambilan Dua Mobil dan Penyerobotan Aset

“Saya melihat KDM sebagai orang yang kuat memegang komitmen. Dia membawa nilai dan simbol budaya Sunda dalam dirinya. Karena itu, saya sulit membayangkan KDM meninggalkan Prabowo hanya karena peluang elektoralnya sedang terbuka,” kata saya.

Dalam politik, elektabilitas memang penting. Namun angka tidak selalu menjadi satu-satunya dasar seseorang mengambil keputusan.

KDM dan Prabowo: Hubungan yang Tidak Bisa Dibaca Sebatas Survei

Jika Prabowo kembali maju pada Pilpres 2029, saya memperkirakan KDM akan menghadapi ujian mengenai komitmen politiknya.

Namun, saya justru menduga KDM akan tetap berada bersama Prabowo apabila Presiden tersebut kembali mencalonkan diri.

“Kalau Prabowo masih maju, saya menduga KDM akan tetap bersama Prabowo. Elektabilitas boleh tinggi, tetapi komitmen juga punya harga,” ujar saya.

Baca Juga: Jangan Jadi “Kertas Kosong”, Benyamin Dorong Remaja Tangsel Perkuat Mental dan Karakter

Pandangan tersebut bukan berarti menutup kemungkinan terjadinya perubahan politik. Politik selalu dinamis.

Tetapi membaca KDM hanya berdasarkan peluang elektoral juga terlalu sederhana.

Dedi Mulyadi memang pernah membuat keputusan politik besar ketika meninggalkan Partai Golkar dan bergabung dengan Gerindra pada 2023. Namun, konteks keputusan tersebut berbeda dengan situasi KDM sekarang.

Karena itu, pengalaman KDM meninggalkan Golkar tidak otomatis dapat dijadikan indikator bahwa ia akan meninggalkan Gerindra ketika ada peluang politik yang lebih besar.

“Jangan samakan ketika KDM keluar dari Golkar dengan posisinya bersama Prabowo hari ini. Konteksnya sangat berbeda. Sekarang ada kepercayaan, komitmen dan perjalanan politik bersama,” kata saya.

Baca Juga: RUU Perampasan Aset Ditarget Ketok 15 Desember, Dasco: Tak Selesai Kami Mundur

Gerindra telah menjadi bagian penting dalam perjalanan politik KDM hingga berada pada posisi sekarang.

Dalam konteks tersebut, meninggalkan partai hanya karena angka survei sedang tinggi belum tentu menjadi pilihan paling rasional.

Halaman:

Tags

Terkini

Pahami Yuuk Menjadi Kuasa Wajib Pajak

Jumat, 14 Agustus 2026 | 13:07 WIB