KDM Menuju 2029: Tak Perlu Melawan Prabowo, Menunggu Estafet Bisa Jadi Jalan Terbaik

photo author
Radi Iswan, Bidik Tangsel
- Rabu, 2 September 2026 | 05:20 WIB
KDM telah berkembang menjadi figur yang layak diperhitungkan dalam pembicaraan mengenai kepemimpinan nasional.
KDM telah berkembang menjadi figur yang layak diperhitungkan dalam pembicaraan mengenai kepemimpinan nasional.

Baca Juga: Prabowo Buka Muktamar ke-35 NU: “Tanpa Dukungan NU dan Muhammadiyah, Saya Tak Dapat Mandat Rakyat”

Jalan KDM ke Istana Bisa Jadi Bukan Melalui Pertarungan

Di sinilah skenario politik yang menurut saya lebih menarik muncul.

KDM sebenarnya tidak harus mengalahkan Prabowo untuk menjadi presiden.

Jika Prabowo kembali maju pada 2029, KDM dapat memilih tetap berada dalam barisan pendukungnya. Sementara itu, KDM memiliki waktu untuk memperkuat rekam jejak pemerintahan dan mempertahankan hubungan politiknya.

Namun situasinya akan berbeda apabila Prabowo memutuskan tidak maju kembali.

Dalam kondisi tersebut, peta politik Gerindra dan kekuatan politik pendukungnya akan memasuki fase regenerasi. Di titik itulah KDM berpotensi menjadi salah satu figur yang paling siap.

“KDM tidak perlu melawan Prabowo untuk menjadi presiden. Kalau Prabowo maju, dia bisa menunggu. Kalau Prabowo tidak maju, KDM sudah berada dalam posisi yang sangat siap,” ujar saya.

Baca Juga: DPR Kunci Tenggat RUU Perampasan Aset: 15 Desember 2026 Jadi Batas Pengesahan

Menurut saya, skenario ini justru memiliki logika politik yang lebih kuat.

KDM tidak perlu keluar dari Gerindra. Tidak perlu membangun kendaraan politik baru dari nol. Tidak perlu mengubah dirinya menjadi antitesis Prabowo.

Ia justru dapat membangun posisi sebagai bagian dari proses regenerasi politik.

Dalam konteks itu, restu Prabowo bisa menjadi aset politik yang jauh lebih berharga dibandingkan sekadar tiket dari kendaraan politik baru.

Jangan Sampai Elektabilitas Menjadi Bumerang

Namun, ada satu jebakan yang harus dihindari KDM: euforia survei.

Popularitas yang tinggi memang memberikan modal politik. Tetapi apabila setiap aktivitas pemerintahan di Jawa Barat terlalu cepat diterjemahkan sebagai persiapan Pilpres 2029, persepsi publik dapat berubah.

Kekuatan KDM saat ini justru lahir dari kedekatannya dengan masyarakat.

Gaya komunikasinya relatif langsung. Aktivitas lapangannya tinggi. Media sosial juga membuat publik merasa memiliki akses yang lebih dekat terhadap sosok dan aktivitas kepemimpinannya.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Radi Iswan

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Pahami Yuuk Menjadi Kuasa Wajib Pajak

Jumat, 14 Agustus 2026 | 13:07 WIB
X