Baca Juga: Peringatan Bulan Guru Nasional, SDN Rawabuntu 03 Dipilih Lokasi Press Tour KSPSTK
Kematian Siswa SMP: Sekolah Gagal Menjadi Ruang Aman
Tragedi meninggalnya siswa SMPN 19 Tangsel akibat bullying berkepanjangan kembali menegaskan lemahnya pengawasan di lingkungan pendidikan. Program Sekolah Ramah Anak selama ini dinilai hanya tertulis dalam dokumen administrasi tanpa implementasi nyata.
Tidak adanya satgas perlindungan anak yang aktif, kurangnya pelatihan guru dalam deteksi dini kekerasan, hingga koordinasi yang minim antara sekolah, orang tua, dan Pemkot menjadi faktor runtuhnya sistem perlindungan internal sekolah.
Layanan Pemerintah Tidak Merata dan Kekurangan Tenaga Profesional
Di ranah pemerintah daerah, layanan seperti UPTD PPA dan PUSPAGA masih minim tenaga psikolog, pekerja sosial, dan pendamping profesional. Ketimpangan layanan antar kecamatan, terutama Pamulang dan Ciputat, membuat perlindungan anak bergantung pada lokasi tinggal, bukan pada standar pelayanan yang setara.
Penghargaan KLA pun dinilai terlalu menitikberatkan pada pemenuhan administrasi, bukan hasil nyata.
Kota bisa menerima penghargaan meski kasus kekerasan terhadap anak meningkat dan sistem perlindungan belum berjalan.
Hari Anak Sedunia: Momentum Koreksi Total
Momentum Hari Anak Sedunia seharusnya menjadi pengingat bagi Pemkot Tangsel bahwa perlindungan anak bukan sekadar capaian seremonial.
Selama kasus baru ditangani setelah viral, bukan melalui sistem pengawasan yang antisipatif, maka kota ini belum benar-benar menempatkan anak sebagai prioritas.
Budaya diam di masyarakat dan ketergantungan korban pada publikasi media menunjukkan ekosistem perlindungan anak yang tidak bekerja.
Arah Muda Progresif: Saatnya Tangsel Mengakui Kegagalan