Baca Juga: Rapimprov Kadin Banten 2026 Dorong UMKM Naik Kelas, Akses Pasar dan Pembiayaan Jadi Sorotan
Teknologi Baterai Natrium Mulai Dilirik
Salah satu perkembangan yang mendapat perhatian adalah baterai sodium-ion atau natrium-ion berbasis solid-state.
Peneliti dari Western University di Kanada mengembangkan material elektrolit solid-state untuk baterai natrium-ion. Teknologi ini memanfaatkan natrium sebagai alternatif lithium dan menggunakan elektrolit padat untuk menggantikan elektrolit cair yang mudah terbakar.
Profesor Western University, Yang Zhao, menjelaskan bahwa natrium lebih melimpah dan berpotensi lebih murah dibanding lithium. Sementara elektrolit solid-state menawarkan potensi peningkatan aspek keselamatan karena tidak menggunakan elektrolit cair yang mudah terbakar.
Dalam penelitian tersebut, tim Zhao menggunakan fasilitas Canadian Light Source untuk mempelajari pergerakan ion di dalam elektrolit padat. Material yang dikembangkan mengandung sulfur dan klorin untuk meningkatkan konduktivitas ion natrium sekaligus stabilitas material.
Baca Juga: Tuntas Dua Hari, 51 Peserta UKW PWI Banten Dinyatakan Kompeten
Meski demikian, teknologi tersebut belum berarti akan segera menggantikan baterai lithium-ion pada mobil listrik yang beredar di pasar.
Canadian Light Source menyebut baterai solid-state natrium masih membutuhkan beberapa tahun sebelum dapat digunakan secara luas secara komersial.
Artinya, temuan tersebut lebih tepat dipandang sebagai perkembangan teknologi yang berpotensi memengaruhi industri baterai pada masa mendatang, bukan sebagai penyebab langsung turunnya harga mobil listrik saat ini.
Mengapa Baterai Natrium Dianggap Menarik?
Salah satu daya tarik baterai natrium adalah ketersediaan bahan bakunya. Natrium lebih melimpah dibanding lithium sehingga secara teori dapat memberikan alternatif bahan baku untuk penyimpanan energi.
Baca Juga: Kadiskominfo Tangsel Dorong Pemuda Tak Sekadar Jadi Pengguna Teknologi
Sementara itu, penggunaan elektrolit solid-state berpotensi meningkatkan aspek keselamatan dibanding teknologi yang menggunakan elektrolit cair mudah terbakar.
Namun, teknologi baru tetap menghadapi tantangan teknis dan komersial. Kemampuan menghantarkan ion, stabilitas, siklus pengisian-pengosongan, kepadatan energi, biaya produksi dan kemampuan manufaktur dalam skala besar menjadi faktor yang menentukan apakah teknologi tersebut dapat bersaing dengan baterai lithium-ion.
Artikel Terkait
DPR-Pemerintah Sepakat Bawa RUU Reforma Agraria ke Paripurna, 596 DIM Dibahas
Kapolda Banten Pesan Peserta UKW PWI Tetap Kritis: Utamakan Etika, Verifikasi dan Akurasi
Dituding Tak Berizin, Pengelola TPST Abu & Co Bantah: Sampah Diolah Mandiri, Bukan Kontrak dengan BSD
TPST Abu & Co Disorot, Pengelola Tegaskan Legalitas: “Kami Kelola Sampah Secara Mandiri”
Pelantikan PAPPRI Tangsel, Mizz Farahdiba Tegaskan Komitmen Satukan Musisi dan Perkuat Ekosistem Musik