Sempat Ramai Kontroversi soal Show 'Mens Rea', Pandji Pragiwaksono Ngaku Kaget dan Klaim Hanya Sekadar Komedi

photo author
Radi Iswan, Bidik Tangsel
- Selasa, 3 Februari 2026 | 14:05 WIB
Menyoroti penuturan komika, Pandji Pragiwaksono setelah materi komedinya dalam show Mens Rea dinilai bikin gaduh di medsos. (Instagram.com/@panji.pragiwaksono)
Menyoroti penuturan komika, Pandji Pragiwaksono setelah materi komedinya dalam show Mens Rea dinilai bikin gaduh di medsos. (Instagram.com/@panji.pragiwaksono)

Baca Juga: DPD Kawanua Katolik Jakarta Resmi Dikukuhkan, Siap Layani Umat Lintas Iman

Pertama, tuduhan penghinaan fisik terhadap Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka.

Kedua, tuduhan penistaan agama terkait materi salat yang dibawakan dalam pertunjukan tersebut.

Terkait hal itu, Panji mengaku terkejut dengan banyaknya laporan yang masuk.

Komika senior itu merasa materi yang dibawakannya murni dalam konteks komedi dan pertunjukan seni, di mana penonton membayar tiket untuk menyaksikan lawakan, bukan ujaran kebencian.

"Kaget sih sejujurnya. Karena saya kan memantau betapa riuhnya ini. Maksud saya, ini kan hanya bercanda, ini kan komedi," ungkap Panji.

Baca Juga: Soal Chromebook via E-Katalog, Nadiem Makarim Singgung Pengakuan Saksi yang Sebut Tak Ada Intervensi Menteri

Terkait tuduhan penghinaan fisik kepada Gibran Rakabuming Raka, Panji menjelaskan materi tersebut berkaitan dengan momen Gibran yang terlihat mengantuk.

Ihwal tudingan tersebut, Panji berpendapat, seseorang yang menyebut orang lain "ngantuk" bukanlah penghinaan fisik, melainkan kondisi manusiawi yang bisa dialami siapa saja.

"Saya tanya, kamu pernah ngantuk enggak? Pak Gibran pernah ngantuk? Pernah. Yang saya bicarakan berarti yang lagi ngantuk. Salahnya di mana?" jelas Panji.

Baca Juga: Prabowo Tegaskan Negara Satu Manajemen di Rakornas Pusat-Daerah

Sementara itu, untuk tuduhan penistaan agama, Panji menyoroti materi tentang "salat safar" yang dipersoalkan oleh kelompok yang mengatasnamakan perwakilan organisasi keagamaan tertentu.

Terkait hal itu, Panji mengklarifikasi dirinya tidak sedang memperolok ibadah salat.

Panji menjelaskan, poin utama dari materinya adalah kritik sosial agar masyarakat tidak memilih pemimpin hanya berdasarkan kesalehan ritual yang dipertontonkan di depan umum, melainkan melihat rekam jejaknya secara menyeluruh.

"Saya enggak bercandain salat. Setupnya kan, adalah jangan pilih orang berdasarkan salatnya saja. Punchlinenya itu bagian patahnya, bagian lucunya," jelasnya.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Radi Iswan

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X