Baca Juga: Kemal Pasya Klarifikasi Status TPST Abu & Co: Kami Berkontribusi, Bukan Penyebab Masalah Sampah
Media asal Tiongkok, South China Morning Post (SCMP), juga menyoroti tren ini dalam artikel yang terbit pada 14 Februari 2025.
SCMP menyebut Kabur Aja Dulu sebagai gerakan perlawanan budaya yang menunjukkan ketidakpuasan generasi muda terhadap pasar kerja di Indonesia.
"Gerakan ini mendorong migrasi dan menunjukkan rasa frustrasi atas kurangnya kesempatan kerja," tulis SCMP.
Baca Juga: Bapenda Kabupaten Serang Serahkan SPPT PBB-P2 dan DHKP Tahun 2025
Menurut laporan tersebut, tagar ini banyak digunakan di platform seperti X dan TikTok, menunjukkan aspirasi generasi muda untuk mencari kehidupan dan peluang yang lebih baik di luar negeri.
Fenomena ini menimbulkan pro dan kontra. Di satu sisi, migrasi tenaga kerja bisa meningkatkan kualitas hidup individu dan devisa negara melalui remitansi.
Di sisi lain, ada kekhawatiran akan potensi brain drain, di mana tenaga kerja berkualitas lebih memilih bekerja di luar negeri ketimbang berkontribusi di dalam negeri.
Baca Juga: Polemik Pemilihan RW di Serua Indah: 1 Suara RT Dihargai hingga Rp20 Juta!
Apakah Kabur Aja Dulu menjadi solusi bagi anak muda Indonesia, atau justru pertanda bahwa ada perbaikan sistemik yang harus dilakukan dalam negeri? Waktu yang akan menjawab. (***)
Artikel Terkait
Dinas Kesehatan Tangsel Bahas Rencana Kerja Kesehatan 2025-2030 Di Forum Lintas Perangkat Daerah
Danantara Resmi Diluncurkan, Firnando H Ganinduto Optimistis Investasi Naik Signifikan
Wagub Banten A Dimyati Natakusumah Sidak Kantor BKD dan Dindikbud
Jelang Ramadan, Harga Bahan Pokok di Tangsel Stabil, Pemkot Siap Intervensi Jika Diperlukan
Polemik Pemilihan RW di Serua Indah: 1 Suara RT Dihargai hingga Rp20 Juta!