'Kabur Aja Dulu' Menggema di Media Sosial: Aspirasi atau Pelarian?

photo author
Radi Iswan, Bidik Tangsel
- Rabu, 26 Februari 2025 | 11:33 WIB
Potret Eks Wapres RI, Jusuf Kalla (kiri) dan Presiden RI Prabowo Subianto (kanan). (Instagram.com/@jusufkalla)
Potret Eks Wapres RI, Jusuf Kalla (kiri) dan Presiden RI Prabowo Subianto (kanan). (Instagram.com/@jusufkalla)

Jakarta, bidiktangsel.com – Fenomena Kabur Aja Dulu tengah menjadi perbincangan hangat di media sosial. Tagar ini banyak digunakan oleh warganet Indonesia sebagai bentuk ajakan untuk mencari kehidupan yang lebih baik di luar negeri.

Tren ini mencerminkan pandangan sebagian anak muda yang merasa kurang dihargai di pasar kerja domestik dan melihat peluang lebih baik di luar negeri.

Baca Juga: Tepis Isu Pertamax Oplosan, Pertamina Pastikan BBM Sesuai Standar

Namun, apakah ini sekadar tren sesaat, atau benar-benar mencerminkan kondisi sosial-ekonomi yang mendorong masyarakat untuk mencari kesempatan di luar negeri?

Mantan Wakil Presiden RI ke-10 dan ke-12, Jusuf Kalla, memandang positif fenomena ini.

Dalam acara di Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta, Senin (24/2/2025), ia menilai bahwa perubahan global membuat individu lebih bebas dalam memilih tempat bekerja.

Baca Juga: Kepala BGN Pastikan Program Makan Bergizi Gratis Tetap Berjalan di Bulan Ramadhan

"Saat ini bukan hanya barang yang berubah, tetapi orang juga berubah. Kita bisa bekerja di mana saja, baik di Amerika, Tiongkok, atau negara lainnya," ujar Jusuf Kalla.

Ia juga menekankan pentingnya budaya kerja keras dengan mencontohkan etos kerja masyarakat Tiongkok dan Jepang.

"Kita harus belajar budaya kerja keras seperti di Tiongkok dan ketelitian seperti di Jepang," tambahnya.

Baca Juga: Lurah Serua Indah Klarifikasi Isu Transaksi Suara dalam Pemilihan Ketua RW

Duta Besar Jepang untuk Indonesia, Masaki Yasushi, juga menyoroti fenomena ini. Dalam perayaan ulang tahun Kaisar Jepang Naruhito di Jakarta, 20 Februari 2025, ia menyatakan bahwa Jepang menghargai tenaga kerja Indonesia dan ingin meningkatkan jumlah pekerja migran dari Indonesia.

"Mereka sangat dihargai di Jepang. Misi saya adalah meningkatkan jumlah tenaga kerja Indonesia di berbagai sektor," kata Masaki.

Menurutnya, pekerja Indonesia bisa diterima di berbagai sektor, termasuk transportasi. Bahkan, ia menyebut seorang sopir bus asal Indonesia yang menjadi pengemudi pertama dari luar Jepang.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Radi Iswan

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X