“Event seperti Tangsel Festival itu penting sebagai trigger. Kita dorong supaya bisa menjadi identitas pariwisata kota,” katanya.
Selain itu, Dispar juga tengah menyusun strategi pengembangan destinasi wisata berbasis komunitas dan potensi lokal di tingkat kecamatan.
“Kita ingin ada pemerataan. Jangan hanya terpusat di satu titik, tapi berkembang di wilayah lain juga,” tambahnya.
Tantangan: Persepsi Publik dan Koordinasi Lintas Sektor
Ervin mengakui, tantangan utama saat ini bukan hanya pada pengembangan program, tetapi juga pada pemahaman publik dan stakeholder terkait batas kewenangan antar dinas.
Ia menilai, kurangnya pemahaman tersebut kerap menimbulkan ekspektasi yang tidak tepat terhadap Dispar.
“Kami tidak ingin dianggap lepas tangan, tapi memang harus sesuai dengan regulasi. Kalau bukan kewenangan kami, tentu tidak bisa kami ambil alih,” ujarnya.
Untuk itu, Dispar berkomitmen memperkuat koordinasi lintas sektor, termasuk dengan dinas yang menangani kebudayaan, guna memastikan program berjalan sinergis.
Dorongan Kolaborasi dengan Media
Dalam suasana santai, Ervin juga menyambut baik kunjungan awak media sebagai bagian dari silaturahmi dan upaya membangun komunikasi yang lebih intensif.
“Kami terbuka untuk diskusi, termasuk dengan teman-teman media. Peran media penting untuk menyampaikan informasi yang utuh ke masyarakat,” katanya.
Ia berharap publikasi yang akurat dapat membantu meningkatkan pemahaman masyarakat terhadap program pariwisata serta mendorong partisipasi aktif dalam pengembangan sektor tersebut. (***)