“Dari informasi awal keluarga, korban dipukul menggunakan kursi. Tapi kami masih menunggu hasil asesmen lengkap dari pihak sekolah dan tim pendamping anak,” jelasnya.
Dindikbud Tangsel: Jadikan Evaluasi Serius
Sementara itu, Kabid SMP Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dindikbud) Tangsel, Dedi, menyampaikan rasa prihatin mendalam dan memastikan akan melakukan pendampingan bagi korban maupun pihak sekolah.
“Kami sedang menganalisis laporan TPPK dan akan berkoordinasi dengan Satgas TPPK Pemkot Tangsel. Ini jadi bahan evaluasi serius agar kasus seperti ini tidak terulang,” tegas Deddy.
Ia juga menyebut bahwa pihaknya akan meninjau kembali penerapan Permendikbudristek Nomor 46 Tahun 2023 tentang Pencegahan dan Penanganan Kekerasan di Satuan Pendidikan, serta memperkuat peran tenaga pendidik dalam membangun lingkungan sekolah yang aman dan inklusif.
Keluarga Harapkan Keadilan
Keluarga korban berharap pemerintah daerah dan pihak sekolah tidak hanya berhenti pada asesmen, tetapi juga memastikan pelaku bertanggung jawab atas akibat yang ditimbulkan.
“Anak kami masih menderita. Kami ingin keadilan dan tanggung jawab dari pihak yang membuat anak kami seperti ini,” ujar salah satu anggota keluarga.
Kasus ini menjadi pengingat serius bagi dunia pendidikan di Tangsel bahwa bullying bukan hanya persoalan kenakalan remaja, tetapi tindak kekerasan yang mengancam masa depan anak-anak.
Diperlukan sinergi antara sekolah, pemerintah, dan masyarakat untuk memastikan sekolah kembali menjadi tempat yang aman bagi tumbuh kembang peserta didik.
(***)