info-tangsel

Gema Sastra Warnai Bulan Bahasa di Setu: Budayawan dan Sastrawan Tangsel Gaungkan Semangat Literasi

Sabtu, 1 November 2025 | 11:42 WIB
kegiatan bertajuk “Gema Sastra” digelar pada Sabtu (1/11/2025) di Aula Kelurahan Setu, Tangerang Selatan.

Setu, bidiktangsel.com – Dalam rangka memperingati Bulan Bahasa dan Sastra Nasional, kegiatan bertajuk “Gema Sastra” digelar pada Sabtu (1/11/2025) di Aula Kelurahan Setu, Tangerang Selatan. 

Acara ini menjadi ajang silaturahmi sekaligus wadah kolaborasi bagi para budayawan, sastrawan, penulis, dan pemerhati seni untuk kembali menghidupkan semangat literasi dan kebudayaan di wilayah Tangsel.

Baca Juga: IndexPolitica Bantah Tuduhan Hasan Hasbi Soal Survei Purbaya Yudhi Sadewa

Kegiatan tersebut menghadirkan sejumlah tokoh sastra dan budaya terkemuka, di, antaranya Budayawan Banten Uten Sutendy, H. Shobir Poer selaku Sastrawan Indonesia, Penulis, dan Pendidik, serta Irgy Zamu, seorang penulis novel muda, Edy Wahyu seorang penyair dan pembaca puisi.

Acara dipandu oleh Hadi Sastra yang berperan sebagai moderator sekaligus penggerak kegiatan literasi di Tangsel.

Dalam sambutan pembukaannya, Lurah Setu Adhi Mustofa S.HI menyampaikan apresiasinya atas terselenggaranya kegiatan sastra di tengah masyarakat.

Baca Juga: 31 Perempuan Korban KDRT di Tangsel Pilih Gugat Cerai, Bukan Lapor Polisi

“Kita bersyukur dapat berkumpul dalam suasana kebersamaan ini. Seni dan sastra membuat hidup menjadi indah. Orang yang dekat dengan seni akan lebih berwarna dalam kehidupannya,” ujarnya.

Sementara itu, H. Shobir Poer dalam arahannya menegaskan pentingnya menjaga eksistensi sastra di Tangerang Selatan. 

Ia mengungkapkan rasa bangganya terhadap kolaborasi para pegiat budaya dan sastra yang terus berupaya menghidupkan kembali gairah berkarya di tengah tantangan zaman.

Baca Juga: Menkeu Purbaya Tegaskan Data Keuangan Daerah Akurat, Targetkan Pertumbuhan Ekonomi 8 Persen

“Ada rasa sedih sekaligus rindu ketika melihat dunia sastra kita belum tumbuh di hati generasi muda. Padahal dari sastra, seseorang bisa menemukan roh kehidupan dan jati dirinya,” ungkap Shobir.

Senada, Uten Sutendy menyoroti pentingnya peran anak muda dalam menjaga kelestarian budaya daerah. Menurutnya, literasi bukan sekadar kegiatan menulis atau membaca, tetapi juga proses membangun identitas dan karakter bangsa.

“Sastra adalah jiwa kebudayaan. Jika generasi muda ingin mengenal akar budayanya, maka mereka harus dekat dengan karya sastra,” katanya.

Halaman:

Tags

Terkini