BidikTangsel.com, Pamulang – Di tengah pesatnya pembangunan kota Tangerang Selatan, tersimpan sebuah oase hijau yang menyatukan nilai-nilai pertanian, budaya, religi, dan sejarah.
Kawasan tersebut dikenal sebagai Ecopark Religi Budaya—sebuah ruang yang tidak hanya berfungsi sebagai lahan pertanian produktif, tetapi juga sebagai ruang spiritual dan edukatif bagi masyarakat sekitar, terutama warga Pamulang dan sekitarnya.
Baca Juga: Kanwil DJP Banten dan Gubernur Andra Soni Sinergi Gali Potensi Ekonomi Daerah
Dalam sebuah dialog terbuka bersama media, Ketua Komunitas Historia Tangsel, Agam Pamungkas Lubah, menegaskan pentingnya kolaborasi masyarakat dalam menjaga dan mengembangkan lahan ini sebagai simbol pertanian berbudaya yang sarat nilai historis.
“Kolaborasi menjadikan pertanian yang berbudaya di Tangsel ini bukan hanya soal tanam-menanam, tapi juga bagaimana kita memahami identitas lokal. Apa itu Historia Tangsel? Kenapa lahan ini penting? Semua bermula dari kesadaran akan sejarah dan akar kita,” ungkap Agam kepada BidikTangsel, Minggu (29/6-2025).
Mengenal Sejarah dan Makna Religius Lahan Portal
Menurut Agam, kawasan ini bukan sekadar ruang hijau, melainkan juga situs sejarah yang memiliki keterkaitan erat dengan masyarakat adat Portal.
Baca Juga: PWI Tangsel Rayakan HUT Bhayangkara Ke-79, Perkuat Sinergitas dengan Polres Tangerang Selatan
Lahan ini, yang disebut juga sebagai "Keramat Pulo", menjadi tempat penting bagi ritual keagamaan, ziarah, hingga acara adat.
“Sejak saya masih bujangan, saya sudah tinggal di sini, di kawasan Portal. Saya sering menginap di rumah Bang Arwadi. Kami bertiga, termasuk Bang cecep, sejak awal konsen menjaga kawasan ini karena tahu betul nilai sejarahnya,” tambah Agam.
Pada tahun 1994, muncul wacana pembangunan besar-besaran di kawasan Pamulang, termasuk rencana pelebaran wilayah yang dikhawatirkan akan mengikis kawasan bersejarah ini.
Baca Juga: Warga Sekitar SMAN 3 Tangsel Demo Damai Tuntut Keadilan Penerimaan SPMB Online 2025
Masyarakat lokal, termasuk Agam dan komunitasnya, menggelar protes damai kepada pemerintah kecamatan dan melakukan tabayun sejarah dengan menggali kembali narasi asli dari para sesepuh.