Baca Juga: Menaker: Nyawa Pekerja Tak Boleh Jadi Taruhan, Balai K3 Harus Cegah Kecelakaan Kerja
Sebagai perbandingan, ia mencontohkan tarif transportasi rute Blok M–Alam Sutera yang relatif murah karena mendapat subsidi besar dari Pemerintah Provinsi DKI Jakarta.
Baca Juga: Pemanfaatan AI di Indonesia Masih Rendah, Menaker: Pekerja Harus Siap Hadapi Perkembangan Teknologi
“Kalau tarif murah seperti itu, pasti ada subsidi besar. Sementara kita juga harus realistis, kebutuhan anggaran di Tangsel masih banyak,” katanya.
Meski demikian, Dishub Tangsel tetap membuka peluang kolaborasi dengan berbagai operator seperti Transjakarta dan Damri guna memperluas konektivitas transportasi bagi warga.
“Saya sudah koordinasi dengan Transjakarta dan Damri. Prinsipnya kita terbuka, bagaimana masyarakat Tangsel bisa lebih mudah bepergian ke mana saja,” jelasnya.
Ayep juga mengaku belajar dari pengalaman daerah lain, seperti Kota Tangerang, yang menghadapi tantangan minimnya penumpang pada layanan angkutan massal berbasis subsidi.
Baca Juga: Gugatan PMH Kadin Tangsel Gugur di PN Tangerang, Perkara Resmi Dinyatakan Selesai
“Jangan sampai kita bikin sistem, tapi penumpangnya tidak ada. Itu jadi pelajaran penting. Kita harus pastikan kebutuhan masyarakatnya dulu,” katanya.
Ke depan, Dishub Tangsel berkomitmen menghadirkan sistem transportasi massa yang tepat sasaran, efisien, dan benar-benar digunakan masyarakat, bukan sekadar proyek anggaran.
“Kuncinya satu, transportasi ini harus membantu masyarakat. Kalau tidak dipakai, berarti ada yang salah dalam perencanaannya,” pungkas Ayep.
(***)
Artikel Terkait
Dishub Tangsel Lakukan Mitigasi Lalu Lintas di Jalan SKKI, Warga Harapkan Sosialisasi Lebih Intensif
Tim Reaksi Cepat Satpol PP Tangsel Siaga 24 Jam, Laporan Warga Ditargetkan Ditangani 15 Menit
Wakil Walikota Tangsel Tekankan Petugas Haji Harus Lebih Siap dari Jemaah
Dekopinda Tangsel Resmi Dilantik, Dorong Koperasi Modern dan Mandiri
Dekopinda Tangsel 2025–2030 Resmi Dilantik, Pilar: Koperasi Harus Adaptif dan Gaet Generasi Muda