Kabupaten Tangerang dan Serang menolak kerja sama lantaran penolakan keras dari masyarakat setempat.
Pandeglang menjadi contoh terbaru. Meski Pemkot Tangsel dan Pemkab Pandeglang sempat meneken perjanjian kerja sama (PKS) untuk membuang sampah ke Desa Bongkonol, rencana itu akhirnya batal setelah warga menolak dengan alasan kekhawatiran pencemaran lingkungan.
Fakta ini menegaskan bahwa sampah Tangsel benar-benar ditolak di mana-mana.
Jalan Buntu
Hingga kini, Pemkot Tangsel tetap menggantungkan solusi pada TPA Cipeucang yang sudah lama dikategorikan tak layak.
Teknologi RDF yang digadang-gadang bisa mengolah sampah menjadi bahan bakar alternatif pun belum berjalan optimal.
“Cipeucang ibarat bom waktu. Kalau dibiarkan, tinggal tunggu longsor berikutnya. Dan itu bukan hanya mencemari sungai, tapi juga merusak kesehatan ribuan warga sekitar,” ujar seorang pemerhati lingkungan dari UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
Hanya Retorika
Kisah panjang TPA Cipeucang menunjukkan lemahnya komitmen pemerintah dalam menangani krisis sampah perkotaan.
Janji penutupan TPA, pembangunan fasilitas modern, serta kerja sama lintas daerah terbukti sebatas retorika politik tanpa realisasi nyata.
Kini, warga Tangsel hanya bisa menagih janji lama: kapan Cipeucang benar-benar ditutup dan diganti dengan solusi yang berkelanjutan?
(***)
Artikel Terkait
Kuasa Hukum Yayasan Shekinah Glory Klarifikasi Polemik Gedung Serbaguna
Mengapa Proyek RSUD Tangsel Rp235 Miliar Belum Diselidiki?
Jadi Penginapan Harian, Warga Minta Pemkot Tangsel Lakukan Langkah Tegas
Ditanya Soal Dualisme PWI Banten, Munir: Insya Allah Nanti Semua Selesai
Kolaborasi Perangkat Daerah dan Dekranasda Tangsel, Salurkan Bantuan Sosial ke Korban Ledakan Pamulang