“Ngider Sehat” Dinkes Tangsel: Strategi Jemput Bola Perangi TBC di Kawasan Padat Penduduk

photo author
Radi Iswan, Bidik Tangsel
- Selasa, 15 Juli 2025 | 08:22 WIB
Benyamin saat meninjau program Ngider Sehat.
Benyamin saat meninjau program Ngider Sehat.

Baca Juga: Akses Jalan ke SMPN 17 dan SMAN 6 Tangsel Dibongkar Paksa: Satpol PP dan Polisi Turun Tangan

Melalui program ini, tim medis melakukan pemeriksaan terhadap kontak serumah dan kontak erat pasien TBC yang sudah teridentifikasi. Bagi mereka yang tidak menunjukkan gejala, akan diberikan Terapi Pencegahan Tuberkulosis (TPT). 

Sementara mereka yang terindikasi memiliki gejala, langsung dirujuk untuk pemeriksaan lanjut seperti Tes Cepat Molekuler (TCM) atau rontgen dada.

TCM: Uji Cepat untuk Pastikan Penularan dari Indeks Kasus

Tes Cepat Molekuler (TCM) menjadi instrumen utama untuk menentukan apakah seseorang telah tertular TBC dari pasien utama (indeks kasus). 

Baca Juga: Akses Menuju SMPN 17 dan SMAN 6 Tangsel Disegel Warga, Protes Jalur Masuk Sekolah Tak Transparan

Dengan uji ini, penanganan dapat segera dilakukan, termasuk pemberian pengobatan dan isolasi untuk mencegah penyebaran lebih lanjut.

“TCM sangat penting untuk memastikan siapa saja yang sudah tertular dan perlu penanganan. Kalau tunggu gejala muncul, bisa terlambat dan menularkan ke orang lain,” tambah dr. Allin.

RW Bebas TBC: Libatkan Warga dalam Pemantauan dan Edukasi

Selain Ngider Sehat, Dinkes Tangsel juga mendorong pembentukan RW Bebas TBC sebagai bentuk partisipasi aktif masyarakat.

Baca Juga: Pemkot Tangsel dan Baznas Apresiasi Hafidz Al-Qur'an Melalui Beasiswa SKSS: 35 Mahasiswa Terpilih Dapat Dukungan Pendidikan

Program ini bertujuan membangun kesadaran kolektif, memperkuat jejaring pemantauan, serta edukasi tentang gejala dan cara penularan TBC.

Masyarakat diberi peran untuk mengidentifikasi pasien baru, melaporkan perpindahan pasien, dan mendukung keberlangsungan pengobatan agar tidak putus di tengah jalan.

“Masyarakat itu bagian dari kunci eliminasi TBC. Kita ajak mereka untuk peduli, terutama jika ada pasien TBC pindah rumah, agar bisa dilacak dan tetap dipantau,” tegas Allin.

Hasil dari pendekatan jemput bola ini cukup signifikan. Hingga 13 Juni 2025, tercatat 8.720 kasus TBC di Kota Tangsel, yang terdiri dari 6.205 kasus pada tahun 2024 dan 2.515 kasus baru terdeteksi sejak Januari 2025.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Radi Iswan

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X