Baca Juga: Tangerang Selatan Perangi Premanisme: Pemerintah Bentuk Satgas, Bukan Ormas
Menurutnya, kebiasaan membuang sampah sembarangan, terutama ke sungai, serta pembangunan ilegal di sempadan sungai menjadi penyebab utama tersumbatnya aliran air yang berujung pada banjir.
“Banjir ini bukan hanya soal pembangunan. Masyarakat juga harus sadar, jangan buang sampah ke sungai, jangan bangun di bahu sungai. Kalau tidak, akan berdampak ke tetangganya,” pungkasnya.
Evaluasi dan Keberlanjutan: Menuju Kota Tangguh Banjir
Penurunan jumlah titik banjir ekstrem di Tangsel dari lebih dari 50 menjadi 17 merupakan indikator keberhasilan nyata dari kebijakan dan tindakan terintegrasi yang dilakukan Pemkot.
Namun, ini bukan garis akhir. Ke depan, tantangan perubahan iklim, urbanisasi, dan degradasi lingkungan akan terus menguji daya tahan kota ini.
Upaya menuju Tangsel sebagai kota tangguh banjir membutuhkan konsistensi, evaluasi berkala, dan kolaborasi berkelanjutan antara pemerintah, masyarakat, dan pemangku kepentingan lainnya. (***)
Artikel Terkait
Tangsel Siaga 24 Jam: Garda Terdepan Penanggulangan Banjir di Tengah Hujan Deras
Desa Sindanglaya Jadi Proyek Percontohan Program Radenmas 2045: Menata Desa Menuju Indonesia Emas
Tangsel Teken Pakta Integritas SPMB 2025: Akhiri Praktik Titip Siswa dan Pastikan Pemerataan Akses Pendidikan
Tangsel Open Taekwondo Championship 2025: Panggung Pembentukan Karakter dan Lahirnya Atlet Berprestasi
WTP Tak Selalu Berarti Sejahtera: Saat Predikat Administratif Tak Berbanding Lurus dengan Realita Publik