Pada awal ketertarikannya terhadap tanaman anggur membuat Yatno Gondrong membeli tujuh jenis bibit anggur, dan mencoba menanamnya namun gagal tak sampai berbuah pohon tersebut mati. Rasa penasaran yang tinggi membuat Yatno Gondrong menjual motor kesayangannya untuk membeli lagi 20 bibit anggur untuk di tanam di lahan tersebut menggunakan pot, polybag.
Dari 20 jenis bibit pohon anggur yang ditanam dan 11 jenis anggurnya bertumbuh subur dan berbuah manis.
Keberhasilannya tersebut karena Yatno Gondrong terus belajar dari komunitas pecinta anggur dan mengamati serta berexperimen dengan tanaman anggur miliknya.
Yatno Gondrong dibantu beberapa petugas PPSU dari Kelurahan Malaka Sari. Pendamping petani binaan Sudin Ketahanan Pangan, Perikanan dan Peternakan (KPKP) Jakarta Timur.
Satu setengah tahun sudah Yatno Gondrong berhasil mengembang kan budidaya 60 jenis varietas anggur dengan sistem grafting dengan pemanfaatan madu sebagai Zat Perangsang Tanaman (ZPT) pertumbuhan akar demikian ujarnya, saat ditemui di lokasi tadi siang.
"Anggur yang berasal dari Ukraina, India cocok ditanam di Jakarta, tanaman anggur butuh batang bawah yang sudah adaptif, makanya kita pakai batang bawah anggur lokal. Kemudian digrafting dengan pucuk anggur impor yang rajin berbuah dan manis rasanya. Jika di negara asal anggur berbuah setahun dua kali jika ditanam di Indonesia lebih sering berbuah," ujar Yatno pula.
Sebelumnya ia sempat beberapa kali melakukan uji coba memanfaatkan bahan lain sebagai ZPT perangsang tumbuh akar namun paling cocok dengan menggunakan madu itupun dengar kadar 70% yang di datangkan khusus dari sebuah daerah di Jawa Tengah.
Mengapa Yatno Gondrong mengubah lahan sayur mayur menjadi tanaman anggur karena sayur mayur hanya periode tertentu sekian bulan jika anggur asal dirawat, dibudidayakan dengan benar dapat berusia puluhan bahkan ratusan tahun, ujarnya pula.