Anggota PWI di seluruh Indonesia tidak boleh hanya jadi penonton.
Suara mereka akan menentukan arah organisasi: memilih pemimpin yang terbukti bersih dari tuduhan, atau membiarkan fitnah dijadikan senjata politik yang sah.
Titik Balik Sejarah PWI
Kongres Dipercepat PWI adalah momentum penting. Sejarah akan mencatat, apakah organisasi pers terbesar di Indonesia ini runtuh karena permainan politik internal, atau justru bangkit karena keberanian anggotanya memilih pemimpin yang menjaga marwah profesi wartawan.
Karena pada akhirnya, lebih dari sekadar perebutan kursi, pertarungan Hendry Ch Bangun vs Akhmad Munir adalah pertarungan tentang masa depan PWI: organisasi yang bebas dari intrik politik, atau sekadar arena adu kuasa yang mengorbankan etika jurnalisme.
(***)
Artikel Terkait
Menteri LH Hanif Faisol Geram Kasus Intimidasi Jurnalis di Serang: "Negara Tidak Boleh Kalah oleh Premanisme"
Danantara-IFG Perkuat Kolaborasi, Dorong Literasi Finansial dan Tata Kelola Aset Negara
Kongres Persatuan PWI: Jalan Moral dan Hukum atau Jalan KEBLINGER?
Telisik Kuota Gas Bumi HGBT Diperketat: Industri Menjerit, Ancaman PHK Massal Bayangi Pekerja Pabrik
Pabrik Peleburan Timbal di Serang Resmi Ditutup Total, Terbukti Tak Punya Izin Lingkungan