Pers dalam Ancaman Pemodal dan Disrupsi

photo author
Redaksi, Bidik Tangsel
- Minggu, 15 Agustus 2021 | 13:58 WIB

Pada tahun 1970-1990an, ketika anak muda beranjak dewasa, membangun keluarga, dan hidup terpisah dari orang tua, mereka lazimnya berlangganan koran. Di era milenial, adakah anak-anak muda yang membangun keluarga baru lantas langganan koran? Tidak ada. Membaca koran sudah terlihat kuno. Kebutuhan informasi sudah tercukupkan dari gadget. Nyaris tak ada pelanggan baru, sementara pelanggan lama berguguran.

Konsekuensi dari menurunnya jumlah pembaca, daya jangkau menyusut, otomatis iklan sebagai tulang punggung pendapatan merosot. Iklan beralih ke media online dan medsos. Angkat topi untuk surat kabar yang tetap bisa mendapatkan iklan sehingga masih mampu bertahan terbit sampai detik ini.

Kebangkrutan surat kabar bukan monopoli kita. Di Amerika, ratusan surat kabar tak lagi terbit. Begitu juga di Eropa dan belahan bumi lainnya. Era keemasan surat kabar telah pudar. Digitalisasi telah datang mendisrupsi kegagahan industri surat kabar. Koran-koran besar yang dikenal sebagai raksasa seperti Chicago Tribune, Los Angeles, Times, Independent, Wallstreet Journal, dan ratusan surat kabar lainnya tumbang, sebagian bereinkarnasi menjadi koran digital.

Kebangkrutan surat kabar disinggung secara khusus dalam buku ‘Jungkir Balik Pers’ karya Nasihin Masha, mantan Pemimpin Redaksi Republika. Nasihin adalah wartawan karir yang merintis karir dari reporter sampai pemimpin redaksi. Dan dari delapan mantan pemimpin redaksi Republika, Nasihin merupakan pemimpin redaksi terlama, yakni 2010-2016. Dalam kepemimpinannya, Republika mengoleksi sejumlah penghargaan bergengsi di bidang jusnalistik seperti Adinegoro, MH THamrin, IPAM, IFRA, penghargaan sebagai koran dengan Bahasa Indonesia yang baik, dan lain-lain.

Buku yang ia tulis ini lahir dari kegelisahannya terhadap perkembangan jurnalistik dan kehidupan pers di tanah air, tanpa lupa menguliti kelemahan jurnalisme di biangnya jurnalistik: Amerika. ‘’Jangan ikuti kecenderungan pers Amerika, tapi ikuti teori jurnalistik Amerika,’’ kata Orville Schell, Dekan Graduate School of Journalism University of California, Berkeley, dikutip di buku tersebut (hal 57).

Buku ‘Jungkir Balik Pers’ terdiri atas Pendahuluan dan tiga bab. Pendahuluan mengambil judul ‘Pers di Era Post Truth, yang ditulis secara khusus untuk membungkus tulisan lain dalam tiga bab berikutnya yang merupakan kumpulan tulisan yang pernah di muat di Republika. Di bab inilah diulas tentang bagaimana pers harus berhadapan dengan kuatnya pemodal, disrupsi digital, pandemic Covid-19, dan kebebasan pers yang sebagian terbelenggu oleh perilaku masyarakat.

Bab I dengan judul Media dan Jurnalisme membahas tentang perkembangan jurnalistik secara umum terutama kecenderungan banyak media yang makin menjauh dari nilai-nilai jurnalistik. Bab II berjudul ‘Pers Indonesia’ lebih menukik pada persoalan media di Indonesia. Dan Bab III dengan judul ‘Republika’ tentu saja mengulas tentang perkembangan Republika yang selalu mencoba untuk taat pada standar jurnalistik.

Secara keseluruhan buku ini layaknya drone yang memotret perkembangan media dan jurnalistik dari atas dan dari banyak sudut. Tulisan berupa ulasan ini, hanya mengambil salah satu sudutnya.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Redaksi

Tags

Rekomendasi

Terkini

X