Pers dalam Ancaman Pemodal dan Disrupsi

photo author
Redaksi, Bidik Tangsel
- Minggu, 15 Agustus 2021 | 13:58 WIB

Kabar di awal tahun 2021 bahwa Koran Tempo dan Indo Pos tidak terbit lagi dalam edisi cetak semakin membuat getir dunia pers di Indonesia. Satu per satu surat kabar berguguran. Setelah berjuang keras untuk bisa bertahan, kedua koran nasional itu akhirnya mengibarkan bendera putih. Pandemi Covid-19 turut mengakeselerasi bergugurannya produk jurnalistik.

Koran Tempo masih bertahan dengan beralih ke format digital. Sedangkan Indo Pos benar-benar undur diri.

Tidak terbitnya dua koran tersebut melengkapi beberapa koran nasional yang sudah tutup lebih dulu karena tergusur era digital, di antaranya Suara Karya, Sinar Harapan, Sinar Pagi, Merdeka, Jayakarta, Angkatan Bersenjata, dan Berita Yudha. Jika selama ini kita mengenal peribahasa ‘mati satu tumbuh seribu’, untuk media cetak berubah menjadi ‘mati satu layu seribu’.

Bisnis koran sekarang ini ibaratnya sudah berada di pukul 5 sore, sebentar lagi magrib, dan kemudian gelap. Tinggal siapa yang tumbang duluan dan siapa yang bertahan lebih lama. Hilangnya surat kabar merupakan sebuah keniscayaan. Karena yang dihadapi adalah sebuah arus besar tren digitalisasi dimana para milenial yang seharusnya menjadi pelanggan baru, semakin menjauh.

Kini tak ada lagi teriakan ‘’koran..koran,’’ di perempatan lampu merah. Tidak ada lagi orang menunggu kedatangan koran di pagi hari yang jika koran terlambat datang, ributnya bukan main. Sehari kalau tidak membaca koran terasa ada yang kurang. Sekarang kalau pun masih langganan, koran datang siang tak lagi protes.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Redaksi

Tags

Rekomendasi

Terkini

X