Italia Juara Dengan Sepakbola Macchiaveli

photo author
Redaksi, Bidik Tangsel
- Minggu, 22 November 2020 | 17:01 WIB

Nama lengkapnya adalah Nicolo di Bernardo dei Machiavelli. Hidup sepanjang tahun 1469-1527. Dianggap sebagai bapak filsafat dan ilmu politik modern yang dikenal dengan buku nya “The Prince” (Il Principe). Meski dikecam dan dibenci karena pandangan politiknya dalam The Prince jauh dari moralitas, faktanya pendapat Machiavelli menjadi pegangan banyak kalangan. Benito Musollini misalnya. Pemimpin Italia ini menyebut The Prince sebagai “vade mecum for statesman”, manual untuk para negarawan. Senada dengan Napoleon yang mengatakan bahwa the Prince “The only book worth reading”, satu-satu nya buku yang layak dibaca.

Mungkin untuk memahami tulisan politik Machiavelly dalam The Prince, bisa difahami dalam paragraph awal buku Bertrand Russel “History of Western Philosophy…” ketika menulis Machiavelli.

Menurut Russel, Renaisans memang tidak melahirkan filosof teoritis yang penting, namun Renaisans melahirkan manusia besar dalam kancah filsafat politik, yaitu Niccolo Macchiavelli. Filsafat politiknya bersifat ilmiah dan empiris, didasarkan pada pengalaman kehidupannya sendiri dan berbicara tentang cara meraih tujuan tertentu. Terlepas apakah tujuan itu baik atau buruk, tujuan-tujuan yang diungkapkan Machaivelli pada suatu ketika laik kita sambut dengan tepuk tangan.

Dari uraian Russel, terbaca bahwa Machiavelli tidak sedang membicarakan politik seharusnya, tetapi politik senyatanya. Machiavelli tidak membicarakan normativitas dan idealitas politik, tapi sedang membicarakan realitas politik. Karena Machiavelli sendiri adalah orang yang terlibat langsung dalam politik di Florence. Sebuah negara kota yang sekarang ini menjadi bagian dari negara Italia. Jadi bila orang mempertanyakan moralitas politik dalam The Prince, pasti tidak akan ditemukan. Karena Machiavelli sedang membicarakan realitas politik dan cara mempertahankan kekuasaan.

Machiavelli sendiri hidup pada masa ketika negara kota Florence sedang ramai dengan perseteruan politik. Politik di Florence, dipenuhi penguasa yang berasal dari keluarga kaya dan kuat. Dalam rangka mempertahankan dan memperebutkan kekuasaan, mereka bukan hanya bekerja sama dengan para konglomerat, tapi juga para agamawan. Karena yang penting itu adalah mencapai tujuan.

Menurut Carlin, pragmatisme sepakbola Italia tercermin dari Cattenacio nya. Sepakbola defensif. Menumpuk banyak pemain di lini pertahanan dengan sekali-kali melakukan serangan balik ketika lawan terlihat lengah. Sepakbola yang tidak atraktif dan tidak indah tapi terbukti ampuh membawa kemenangan bagi Italia.

Lilian Thuram, anggota timnas Prancis yang dikalahkan Italia pada Final Piala Dunia 2006 di Berlin Jerman yang juga meniti karir di Liga Italia, mengatakan bila kemenangan sudah menjadi budaya orang Italia. Bagi orang Italia, tim boleh bermain buruk tapi mereka tetap harus menang minimalnya skor 1-0. Kita juga tidak akan pernah tahu skill kelas dunia apa yang dimiliki oleh Filippo Inzaghi. Namun, semua tahu Inzaghi adalah salah satu striker legendaris Italia dengan 278 gol untuk klub dan timnas dan memenangkan banyak trophy.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Redaksi

Tags

Rekomendasi

Terkini

X