Obsesi masyarakat Belanda untuk menciptaka ruang yang longgar bukan hanya terjadi dalam dunia arsiterktur, tapi juga dalam normal sosial. Dibanding negara Eropa lainnya, Belanda dikenal sebagai negeri dengan norma sosial paling longgar. Ketika di negara Eropa lainnya orang mesti sembunyi-sembunyi untuk bisa menghisap ganja dan mariyuana, di Belanda orang bisa menghisapnya di pusat kota, Vondel Park.
Obsesi menciptakan ruang yang longgar ini juga menjalar ke Sepakbola. Permainan Sepakbola Belanda adalah permainan memanfaatkan dan mengeksploitasi ruang sedemikian rupa.
Ukuran lapangan sepakbola dimana-mana semuanya sama. Tapi orang Belanda terbiasa membangun ruang luas abstrak di kepala. Membesar dan mengecilnya ruang bukan hanya tergantung pada ukuran di alam nyata, tapi dari cara mengeksploitasinya. Disinilah total football sebagai sebuah permainan memanfaatkan ruang muncul.
Ketika lawan menguasai Bola, ruang harus dibuat sempit. Caranya adalah dua sampai tiga pemain terdekat harus mendekat untuk menekan kepada lawan yang menguasai bola. Tidak perduli apakah dia itu pemain penyerang atau bertahan. Sehingga bagi lawan, ruang terasa sempit. Tekanan harus diberikan secepat mngkin bahkan ketika Bola nya masih bergulir di jantung pertahanan. Sebaliknya ketika teman sendiri menguasai Bola, maka ruang harus dibuat lebar. Pemain-pemain lain harus bergerak aktif membuka ruang sehingga lapangan terlihat luas. Permutasi pemain dalam setiap posisi yang dilakukan secara cepat inilah yang menjadi ciri utama Sepakbola Belanda.
Bila dalam arsitektur upaya memperluas ruang disebut dengan gerakan Total, maka dalam Sepakbola gerakan ini disebut dengan Total Football. Sebuah permainan bola yang mengandalkan fleksibilitas posisi pemain, pergerakan pemain sebagai konsekuensi dari upaya untuk mencpatakan ruang agar bisa di eksplotasi semaksimal mungkin. Jadi Total Football Belanda lahir dari Psyche orang Belanda yang tergila-gila dengan ruang dan pemanfaatannya.
Begitulah kira-kira pandangan David Winner tentang Sepakbola Belanda yang dituangkan dalam buku “Brilliant Orange; The Neurotic Genius of Dutch Football” yang diterbitkan pertama kali pada tahun 2000. Winner sendiri adalah orang Inggris yang tergila-gila dengan Sepakbola Belanda.
Bila judul tulisan ini adalah tentang Italia, lalu bagaimanakah cara negeri spagheti ini membangun Sepakbola nya?
Dalam Becoming Champions, dokumenter tentang negara-negara peraih Piala Dunia, John Carlin seorang penulis dari Italia mengatakan bahwa Italia terkenal dengan efisiensi dalam seni dan arsitekturnya. Prinsip efisiensi inilah yang mempengaruhi gaya permainan Sepakbola Italia. Namun pengaruh efisiensi bukan hanya didapat dari seni dan arsitektur saja, tapi juga dari salah satu pemikir Italia masa renaisans, Niccolo Machiavelli. Karena Macchiavelli adalah Raja efiesiensi dan Raja pragmatis.