“Daya Tahan” Media di Tengah Pandemi Corona

photo author
Redaksi, Bidik Tangsel
- Jumat, 3 April 2020 | 10:17 WIB

Boleh jadi, logika harapan semacam itu bisa dianggap sebagai kecengengan, atau kemanjaan yang seolah-olah menjadi cermin kultur sikap media, selama ini. Merasa punya peran khusus, lalu meminta secara khusus. Merasa punya fungsi khusus, maka menuntut perlakuan khusus pula.

Saya tidak bertendensi memperkuat logika-logika berpikir semacam itu, namun hanya mengajak merenung, baik kepada kita yang berada di lingkup internal media, maupun para pemangku kepentingan yang selama ini bergandeng tangan dengan media.

Ketika realitasnya aparat pemerintah pun membutuhkan peran media dalam jaringan sosialisasi kebijakan, update informasi, dan visi edukasi, saya kira renungan semacam ini tidak berlebihan.
Wartawan dan media, dengan pertimbangan etika substantif yang mendahulukan kepentingan kemanusiaan ketimbang kepentingan pribadi dan kelompok, sudah pasti menjadi bagian dari suasana prihatin yang sedang dijalani masyarakat dunia, termasuk bangsa ini. Yang harus didahulukan di atas segalanya adalah kepentingan kemanusiaan.

Lembaga-lembaga pemerintah di Indonesia memotong anggaran belanjanya dalam kontribusi penggalangan dana penanganan pandemi Corona. Di panggung global, kita simak klub-klub sepak bola di liga-liga Eropa memilih langkah kemanusiaan dengan memotong gaji pemain.

Kembali ke wartawan dan media kita, pada positioning kesadaran fungsi yang diemban, menyembul realitas-realitas kehidupan yang harus dijalani. Barang tentu,kenyataan itu membutuhkan jalan keluar yang bukan sekadar ungkapan katarsistis berupa candaan atau satir meme.

-- Amir Machmud NS, wartawan suarabaru.id dan Ketua PWI Provinsi Jawa Tengah

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Redaksi

Tags

Rekomendasi

Terkini

X