Mencari Oleh-Oleh MTQ Untuk Masyarakat Kota Tangsel

photo author
Redaksi, Bidik Tangsel
- Minggu, 8 September 2019 | 10:33 WIB

Saya kira, perjalanan MTQ inilah yang memperkenalkan saya dengan Tangsel. Tahun 2008 saya diutus menjadi kafilah MTQ Tingkat Nasional ke-22 di Provinsi Banten. Waktu itu saya keluar sebagai juara 1 tingkat nasional untuk cabang M2KQ, mendapatkan hadiah dan piala yang langsung diserahkan Gubernur Banten pada saat itu. Tahun itu pula saya hijrah ke Tangsel, menjadi warga provinsi Banten.

Tradisi literasi

Hari-hari ini kita akan menggelar MTQ di Tangsel. Sebagai mantan peserta MTQ dengan pengalaman yang banyak mengubah hidup pribadi, saya merasa harus ada oleh-oleh yang dibawa dari 'event' ini untuk masyarakat Tangsel. Bukan semata festival dan seremonial belaka. Bukan sekadar kegiatan yang harus diselenggarakan agar para pemenangnya bisa berlomba di level berikutnya.

Bagi saya, MTQ adalah etalase tentang bagaimana seharusnya budaya literasi digarap dan digaungkan. Bayangkan, dari sebuah buku suci bernama al-Quran, betapa banyak hal bisa diturunkan: Menjadi tilawah, cerdas cermat, makalah, hafalan, tafsir, dan seterusnya. Semua itu bahkan menggerakkan sektor ekonomi dan kebudayaan: Menjadi merchandise, bazar, panggung megah, kesenian Islami, dan lainnya. Inilah model dan potret terbaik dari bagaimana budaya literasi seharusnya difestivalisasi.

Tentu saja dengan catatan, apakah penyelenggara dan semua pihak yang terlibat memiliki visi yang sama? Sampai pada pikiran dan imajinasi semacam itu? Bahwa ini bukan sekadar ajang rutin untuk menyerap anggaran, buka semata kerja untuk mencari prestasi yang bersifat permukaan belaka--apalagi sekadar pencitraan.

Tangsel kerap menjadi juara umum MTQ di tingkat Provinsi Banten, pun Provinsi Banten sering menjadi juara umum di tingkat nasional. Pertanyaannya, apa oleh-oleh yang bisa dibawa dari semua itu selain hadiah dan piala? Selain prestasi dan selebrasi media? Bagi saya semangat MTQ harus menghidupkan dunia literasi dalam pengertiannya yang paling luas. MTQ harus menjadi inspirasi bahwa kebudayaan dan peradaban bisa bergerak karena sebuah teks yang dibaca, ditafsir, dioperasionalisasikan ke berbagai bentuk yang lain.

Jika anggaran pemerintah untuk kegiatan MTQ besar, ia harus paralel juga dengan anggaran untuk kegiatan literasi yang lain. Jika perhatian pemkot untuk gelaran MTQ terasa istimewa, semangat al-Quran tentang 'iqra' harus juga dicerminkan terhadap perhatian yang sama besar untuk aspek literasi yang lain: Sastra, riset, dan lainnya. Itulah oleh-oleh besar yang harus kita ambil dari MTQ.

Jika Provinsi Banten dikenal sebagai tempat penghasil para qari dan qariah terbaik Nusantara, para penghafal dan penafsir Quran kelas dunia, juga prestasi yang gilang-gemilang di ajang MTQ dan STQ, ada yang salah jika kemudian justru di Provinsi ini angka buta huruf masih cukup tinggi dan tradisi literasinya belum berkembang dengan baik. Bicara Tangsel, mampukah semangat al-Quran membumi di kota ini?

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Redaksi

Tags

Rekomendasi

Terkini

X