Mata Wayan sesekali menerawang ke langit yang cerah. Angin sepoi-sepoi menerpa tubuh mereka.
Wayan banyak bercerita kepada warga ikhwal awal ia masuk sebagai tentara. Baginya, menjadi tentara adalah panggilan hati karena cintanya pada Ibu Pertiwi.
"Tapi, bukan cuma tentara yang harus memiliki rasa cinta yang besar terhadap bangsa dan negara ini, namun kita semua, rakyat Indonesia," ucap Wayan.
Ia lalu menceritakan bagaimana seorang prajurit ditempa secara fisik dan mental agar benar-benar memahami konsep bela negara.
"Bela negara yang paling mudah dilakukan bapak-bapak ini, ya dengan selektif terhadap informasi yang beredar. Karena, sekarang banyak beredar informasi hoaks, kalau ada informasi meragukan, jangan langsung dipercaya, harus dicek kebenarannya," tuturnya.
Wayan kemudian memberikan tips kepada ketiga warga itu bagaimana menyerap informasi yang baik. Kata dia, setiap informasi harus jelas sumbernya, asalnya dari mana, siapa yang menyampaikan dan isinya dapat dipertanggungjawabkan.
"Kalau sekarang dapat informasi berantai lewat WhatsApp, misalnya, jangan langsung disebar kembali sebelum dicek kebenarannya. Kalau tidak tahu asalnya, lebih baik didiamkan saja," serunya.
Obrolan Wayan dan warga berakhir saat kumandang adzan terdengar dari Masjid Jami Baritul Istikomah yang tak jauh dari lokasi mereka berteduh.