Surat-Surat Wasiat Mendiang Nana

photo author
Redaksi, Bidik Tangsel
- Senin, 17 Juni 2019 | 00:10 WIB

Subhanallah. Maha Besar Allah SWT. Dia mengabulkan cita- cita Nana. Saat kanker stadium empat menggerogoti tubuhnya, Nana melahirkan bayi laki-laki, Adnan, dua bulan lalu.
Setelah melahirkan bayinya ia pun lanjut dirawat di RS yang sama untuk pengobatan kanker.

Nana lahir kembar. Saudari perempuannya, dokter Shabrila ( Lala) tengah hamil besar saat itu. Adnan terpaksa " diasuh" sementara oleh tante Nana. Berkah Tuhan : kebutuhan ASI sang bayi cukup melimpah,
" dipasok" oleh beberapa donatur ASIP yang baik hati.

Menjelang lebaran, kesehatan Nana agak membaik. Dokter RS mengizinkan dia pulang. Sekalian untuk merayakan Idul Fitri di rumah. Saat itu memang dia tunggu. Untuk melepas rindu bertemu Adnan yang dirawat di rumah tantenya.
Rumah mereka memang berjauhan. Tapi bukan itu yang menjadi penghalang Nana bertemu Adnan. Melainkan kondisi Nana selama di rumah tidak memungkinkan. Ternyata ta ia masih sangat lemah.
Rabu ( 5/6) tengah malam Nana malah dilarikan ke RS dan dirawat di ruang ICU kembali karena kondisinya kritis.

Tantenya semula berencana mengantarkan Adnan untuk bertemu Nana, tapi urung dilaksanakan. Terkait kondisi Nana yang kritis di ruang ICU dan pertimbangan kondisi rentan Adnan sendiri yang masih bayi.

Terhadap posisi Adnan, mendiang Nana menulis surat “ wasiat” begini. “ Hi, suamiku, babanya Adnan yang terbaik . Pasti sulit rasanya membesarkan Adnan sendiri. Tapi percaya deh, nggak ada tempat terbaik  untuk Adnan selain di dekat babanya. Di awal-awal akan banyak yang memberikan saran ini dan itu, dengarkan saja. Jikq nggak sesuai dengan pola asuh sayang, nggak usah diikuti. Jangan malu- malu untuk meminta bantuan yah. Mulai dari donasi ASIP ( air susu ibu perah). Sampai membersihkan popok/ memandikan sekalipun. Ingat anak kita bukan anak sapi. Jadi, semampu sayang untuk menyediakan asip yah… jangan lupa banyak membaca dan bertanya. Lala pasti bisa membantu selalu. Jika menurut sayang Adnan dan sayang lebih baik berdua saja di Bandung silahkan. You know what best for our son! Besarkan Adnan jadi ahli ibadah, ahli syukur dan ahli Al Quran. Itu saja pesanku. Love you forever,” tulis mendiang begitu ringan. Seolah hanya mau berangkat berumrah ke Tanah Suci.

Nana tiga bersaudara. Nana, Lala dan si bungsu Toriq. Pas lebaran Toriq telah kembali di Tanah Air setelah merampungkan studinya di Jerman. Ia pun dapat menyaksikan kepergian almarhumah.

Ketiga putera puteri ini lahir dari pasangan Ir Novizar Swantry dengan Evawaty Ningsih, MBA.
Evawaty adalah sepupu isteri saya. Tapi hubungan batin mereka lebih dari sekedar sepupu. Waktu Eva muda, ia melanjutkan studi strata dua di Jakarta, dan tinggal di rumah keluarga isteri.
Jadi hubungan mereka amat dekat, layaknya bersaudara kandung. Waktu Lala menikah, saya diminta jadi saksi pernikahannya.

Kepada ayahnya, Novizar Swantry, almarhumah menulis begini. “ Pa, Nana mau minta ampun atas segala hal yang Nana kerjakan tapi tidak Papa ridhoi. Terima kasih atas segala pengorbanan yang Papa sudah lakukan untuk kita, anak-anaknya sampai-sampai tidak bisa mendampingi isteri tercinta di hari akhir. Terima kasih Pa untuk semua beban yang Papa usahakan pikul sendiri. Mulai sekarang kita harus berbagi beban dan juga kasih. I love u always pa,,, u re may hero.”

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Halaman:

Editor: Redaksi

Rekomendasi

Terkini

X