Gara-Gara MBG, 13 Kiai di Jabar Tertipu Program Fiktif, Kerugian Tembus Ratusan Juta

photo author
Radi Iswan, Bidik Tangsel
- Selasa, 5 Mei 2026 | 14:59 WIB
Sebanyak 13 pengasuh pondok pesantren di Jawa Barat mendatangi Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Pimpinan Pusat Gerakan Pemuda Ansor
Sebanyak 13 pengasuh pondok pesantren di Jawa Barat mendatangi Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Pimpinan Pusat Gerakan Pemuda Ansor

Bidiktangsel.com - Kasus dugaan penipuan berkedok program Makan Bergizi Gratis (MBG) kembali mencuat. Sebanyak 13 kiai dari 13 pondok pesantren di Jawa Barat melaporkan kerugian finansial setelah terjerat program fiktif yang mengatasnamakan kemitraan dengan pemerintah.

Sebanyak 13 pengasuh pondok pesantren di Jawa Barat mendatangi Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Pimpinan Pusat Gerakan Pemuda Ansor pada 30 April 2026.

Mereka melaporkan dugaan penipuan terkait program yang disebut sebagai bagian dari skema Makan Bergizi Gratis (MBG), dengan kerugian mencapai puluhan hingga ratusan juta rupiah per pesantren.

Baca Juga: Tiba-tiba Ngamuk dan Lempar Helm, Begini Kronologi Viral Pelari Jogja 10K Kena Bogem OTK: Pelarinya Enggak Salah Apa-apa

Program yang ditawarkan kepada para korban mengatasnamakan “Dapur Santri Nusantara” (DSN) atau Koperasi Santri Nusantara.

Pihak yang mengaku sebagai perwakilan program menyebut kegiatan tersebut sebagai mitra resmi Badan Gizi Nasional, sehingga menarik minat para pengelola pesantren.

Dalam skema yang ditawarkan, pesantren diminta menyediakan lahan minimal 400 meter persegi, membayar biaya pendaftaran sebesar Rp1,5 juta, serta menandatangani commitment fee.

Selanjutnya, mereka diwajibkan membangun dapur melalui kontraktor yang telah ditentukan oleh pihak penyelenggara.

Para korban dijanjikan bahwa seluruh biaya pembangunan akan diganti oleh pemerintah setelah dapur mulai beroperasi.

Baca Juga: Menyoroti Kasus Kematian dr Myta Aprilia, Kemenkes Singgung Sanksi Pembekuan jika RS Terbukti Lalai

Namun, setelah proyek dapur selesai dibangun, pihak yang menawarkan kerja sama tersebut tidak lagi dapat dihubungi.

Salah satu korban, KH Ade Abdurrahman dari Cirebon, mengaku mengalami kerugian signifikan setelah menjual aset pribadi untuk membiayai pembangunan dapur. Ia menyebut masyarakat sekitar sempat berharap adanya lapangan kerja dari program tersebut.

Ketua LBH GP Ansor, H. Dendy Zuhairil Finsa, menyatakan jumlah korban berpotensi bertambah.

Berdasarkan laporan awal, tidak menutup kemungkinan ratusan pesantren di berbagai daerah mengalami modus serupa.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Radi Iswan

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X