info-tangsel

Tangsel Perkuat Penanganan Stunting, 879 Anak Terindikasi hingga Agustus 2026

Kamis, 17 September 2026 | 09:00 WIB
Publikasi Stunting Tingkat Kota Tangerang Selatan Tahun 2026 yang berlangsung di Ruang Blandongan Lantai 4, Pusat Pemerintahan Kota (Puspemkot) Tangsel

Ciputat, bidiktangsel.com – Pemerintah Kota Tangerang Selatan (Tangsel) memperkuat strategi penanganan stunting dengan mengandalkan data hingga tingkat individu dan alamat.

Pendekatan tersebut dilakukan agar intervensi yang diberikan kepada keluarga dapat disesuaikan dengan faktor penyebab yang ditemukan di lapangan.

Wakil Wali Kota Tangerang Selatan Pilar Saga Ichsan mengatakan, data terperinci menjadi salah satu instrumen penting dalam menentukan langkah penanganan stunting secara lebih terarah.

Baca Juga: Satpol PP Tangsel Segel Gardu Listrik PT Xanhsm Green SM Usai Sidak DPRD

Hal itu disampaikan Pilar dalam kegiatan Publikasi Stunting Tingkat Kota Tangerang Selatan Tahun 2026 yang berlangsung di Ruang Blandongan Lantai 4, Pusat Pemerintahan Kota (Puspemkot) Tangsel, Rabu (16/9/2026).

Menurut Pilar, pemerintah telah memperoleh data anak yang terindikasi stunting berdasarkan hasil pengukuran. Data tersebut kemudian disampaikan kepada jajaran kewilayahan, terutama kecamatan, untuk ditindaklanjuti melalui program yang sesuai dengan kondisi masing-masing keluarga.

“Jadi kami mendapatkan informasi secara akurat jumlah by name, by address masyarakat atau anak-anak yang dalam kondisi stunting. Dan kita sebarkan data itu ke kewilayahan, khususnya ke kecamatan untuk diberikan langkah-langkah strategis, tindak lanjut supaya permasalahan stunting itu bisa teratasi,” ujar Pilar.

Baca Juga: 124 Perkara Inkracht, Kejari Tangsel Musnahkan Puluhan Kilogram Narkotika hingga Senjata Api

Intervensi Stunting Disesuaikan Kondisi Keluarga

Pilar menegaskan, penanganan stunting tidak dapat dilakukan dengan satu pola yang sama untuk seluruh keluarga. Pemerintah perlu melihat berbagai faktor yang berpotensi memengaruhi kondisi anak, mulai dari kesehatan, kecukupan gizi, lingkungan tempat tinggal, hingga kondisi sosial dan ekonomi.

Jika persoalan lingkungan menjadi salah satu faktor, misalnya, intervensi dapat diarahkan melalui program pembangunan septic tank.

Sementara kondisi hunian yang tidak memenuhi aspek kesehatan, seperti minim pencahayaan, sirkulasi udara yang buruk, maupun tingkat kelembapan tinggi, dapat menjadi dasar untuk ditindaklanjuti melalui program perbaikan atau bedah rumah.

Untuk aspek kesehatan dan gizi, Pilar menyebut Dinas Kesehatan bersama Pos Gizi memiliki peran dalam memberikan pendampingan kepada keluarga.

 

Halaman:

Tags

Terkini