Oleh Junaidi Rusli
Tangerang Selatan — Retorika pemerintah pusat maupun Pemkot Tangerang Selatan (Tangsel) terkait solusi sampah terbukti tak lebih dari omon-omon.
Janji Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) untuk menutup Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Cipeucang setelah tragedi longsor 2020 hingga kini tak pernah ditepati. Faktanya, TPA di tepi Sungai Cisadane itu masih menjadi satu-satunya lokasi penumpukan sampah kota.
Setiap hari, sekitar 700 ton sampah Tangsel tetap digelontorkan ke Cipeucang. Gunungan sampah terus meninggi, menebar bau menyengat, serta rawan longsor ulang.
Berbagai solusi yang pernah dijanjikan pemerintah—mulai dari teknologi Refuse-Derived Fuel (RDF) hingga kerja sama antar daerah—nyaris tak satupun berjalan efektif.
Baca Juga: Dugaan Skandal Proyek Ciater Miliaran, Pengamat : DPRD Tangsel Jangan Buat Marah Rakyat
Janji yang Tak Pernah Terwujud
Pasca-longsong besar Mei 2020 yang menutupi Sungai Cisadane dengan ribuan ton sampah, Menteri LHK bersama Pemkot Tangsel sempat berkomitmen menutup Cipeucang.
Pemerintah kala itu menjanjikan percepatan pembangunan fasilitas pengolahan modern agar sampah tak lagi ditumpuk sembarangan.
Namun, lima tahun berlalu, janji itu tak juga terealisasi.
“Pemkot Tangsel selalu menjanjikan solusi tapi ujung-ujungnya tetap kembali ke Cipeucang. Padahal jelas TPA ini sudah tidak layak,” kata seorang aktivis lingkungan asal Serpong, Jumat (20/9).
Ditolak di Mana-Mana
Berbagai upaya Pemkot Tangsel mencari lokasi alternatif untuk buangan sampah selalu mentok di penolakan.
TPST Lulut-Nambo, Bogor sempat disebut solusi regional, namun kapasitasnya terbatas dan tak bisa menampung sampah Tangsel.