Oleh: Junaidi Rusli
Menjelang peringatan Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia ke-80, bendera merah putih kembali berkibar di seluruh penjuru negeri.
Gapura desa dipoles ulang, lomba-lomba rakyat mulai digelar, dan suasana nasionalisme terasa menggema.
Namun, di balik semarak itu, realita pahit tak dapat disembunyikan—secara ekonomi, rakyat kecil belum benar-benar merdeka.
Harga Sembako Naik, Pendapatan Tak Bertambah
Di pasar-pasar tradisional, keluhan pedagang dan pembeli sama-sama terdengar. Harga beras, cabai, dan minyak goreng terus merangkak naik.
Ibu rumah tangga harus memutar otak agar uang belanja cukup, sementara pedagang kecil bertahan dengan omzet pas-pasan, bahkan tak jarang merugi.
Petani masih dihimpit ongkos produksi tinggi, dari harga pupuk hingga biaya transportasi.
Nelayan pun menghadapi mahalnya solar dan peralatan melaut, sementara harga ikan di tingkat pengepul tetap rendah.
Baca Juga: Menuju Olimpiade LA 2028, KONI Tangsel Gelar FGD Peningkatan Prestasi Olahraga
Kesenjangan Ekonomi Makin Lebar
Data Badan Pusat Statistik (BPS) memang mencatat pertumbuhan ekonomi nasional yang positif.
Namun, pertumbuhan itu terasa bagai statistik di atas kertas—jauh dari meja makan rakyat kecil. Keuntungan ekonomi lebih banyak dinikmati oleh segelintir pihak yang memiliki akses modal, teknologi, dan kedekatan dengan kebijakan.