Solusi Berbasis Komunitas dan Teknologi
Salah satu solusi yang tengah dikembangkan adalah konsep inti-plasma, yaitu kerja sama antara petani kecil (plasma) dan petani inti yang memiliki sarana produksi seperti mesin pembuat pelet dan teknologi budidaya.
Petani kecil diberikan akses bibit dan pelatihan, sementara hasil produksinya bisa dijual kembali ke petani inti atau koperasi.
“Kalau punya lahan, tinggal siapkan bibitnya. Kita bisa bentuk kelompok, produksi pelet sendiri dari bahan baku lokal. Di sinilah peran kementerian harus hadir, mendampingi dan bantu fasilitasi mesin serta pelatihan,” tegas Edi.
Baca Juga: Kabupaten Serang Canangkan Gerakan “Bahagia Tanpa Narkoba” di Peringatan HANI 2025
Masalah lain adalah minimnya pendampingan dari pemerintah. Edi menyoroti pentingnya konsultasi gratis bagi petani yang mengalami kendala.
Selama ini, katanya, banyak petani justru belajar secara otodidak dari pengalaman atau video daring.
"Kita butuh pendampingan nyata. Kalau petani punya masalah, harus ada tempat konsultasi terbuka. Sekarang ini mereka malah dibilang nganggur, padahal kerja keras setiap hari.”
Edi juga mendorong adanya riset dan pengembangan pakan alternatif yang lebih murah dan efisien, termasuk penggunaan bahan-bahan organik dan limbah pertanian.
Baca Juga: Gubernur Banten Gandeng Indonesia Muda Preneur Academy Dorong Anak Muda Jadi Pelaku Usaha Mandiri
Menuju Ketahanan Pangan Berkelanjutan
Ketahanan pakan bukan sekadar soal teknis, tapi menyangkut kedaulatan dan martabat petani.
Langkah-langkah kecil yang dilakukan komunitas petani di Tangsel membuktikan bahwa dengan semangat kolaborasi, inovasi, dan kemandirian, cita-cita menuju ketahanan pangan nasional bukan hal yang mustahil.
“Petani harus jadi subjek utama dalam sistem pangan kita. Bukan hanya sebagai penghasil, tapi juga sebagai penentu masa depan pangan bangsa,” pungkas Edi. (***)