Diversity Washing: Inklusivitas yang Sekadar Pajangan?

photo author
Radi Iswan, Bidik Tangsel
- Senin, 6 Oktober 2025 | 15:58 WIB
Ilustrasi Istilah diversity washing
Ilustrasi Istilah diversity washing

Oleh : Dian Widiyati

Opini - Dalam beberapa tahun terakhir, banyak perusahaan di Indonesia berlomba menampilkan citra “beragam dan inklusif”.

Mulai dari kampanye yang menonjolkan keberagaman etnis, gender, hingga penyandang disabilitas, semua tampak indah di permukaan. 

Namun, pertanyaan mendasarnya: apakah semua ini benar-benar mencerminkan praktik nyata, atau sekadar diversity washing – upaya kosmetik untuk terlihat peduli pada keberagaman tanpa komitmen substansial?

Baca Juga: Bupati Ratu Zakiyah Bagikan 500 Paket Sembako, Ajak Warga Serang Bersinergi Menuju Kabupaten yang Lebih Sejahtera 

Istilah diversity washing merujuk pada tindakan organisasi yang menonjolkan narasi keberagaman demi reputasi atau kepentingan bisnis semata, tanpa adanya perubahan struktural yang berarti di dalam organisasi. 

Fenomena ini makin sering ditemukan di Indonesia, terutama sejak meningkatnya perhatian publik terhadap isu kesetaraan dan inklusi sosial. 

Sayangnya, dalam banyak kasus, promosi keberagaman hanya berhenti di tingkat pemasaran – sementara di ruang rapat, pengambilan keputusan tetap didominasi oleh kelompok homogen.

Baca Juga: Air Kali Rawa Buntu Serpong Mendadak Memerah, DLH Tangsel Ambil Sampel untuk Uji Laboratorium

Beberapa indikator diversity washing dapat dikenali, misalnya ketika perusahaan memamerkan figur perempuan atau minoritas di iklan, tetapi proporsi mereka di posisi strategis masih minim. 

Ada pula yang mencantumkan komitmen “equal opportunity” dalam laporan keberlanjutan, padahal budaya kerja internal belum mendukung lingkungan inklusif.

Praktik seperti ini bukan hanya menipu publik, tetapi juga menodai makna keberagaman itu sendiri.

Baca Juga: Di Tengah Guyuran Hujan, Gubernur Banten Andra Soni Beri Pesan Menyentuh ke Peserta Kemah Kebangsaan

Untuk menghindari jebakan diversity washing, perusahaan perlu memastikan bahwa keberagaman tidak berhenti pada representasi simbolik, melainkan menjadi bagian dari strategi bisnis dan budaya organisasi. 

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Radi Iswan

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X