Oleh: A. Ghozali Mukti, Pemimpin Redaksi Media Detak.co.id
Ciputat – Persoalan sampah di Kota Tangerang Selatan (Tangsel) bukanlah isu baru. Namun, hingga kini penanganannya masih menjadi pekerjaan rumah besar bagi pemerintah daerah maupun masyarakat.
Setiap hari, ribuan ton sampah dihasilkan dari aktivitas rumah tangga, perkantoran, hingga pusat perbelanjaan.
Sayangnya, pola penanganan sampah masih didominasi sistem kumpul-angkut-buang, tanpa pengolahan serius yang mampu mengurangi timbunan di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Cipeucang.
Padahal, pengalaman sejumlah komunitas pengelola sampah di Tangsel menunjukkan bahwa persoalan ini sebenarnya bisa diatasi, jika ada keseriusan dan kemauan untuk bergerak.
Biaya Operasional dan Partisipasi Masyarakat
Dalam operasional pengelolaan sampah, faktor biaya menjadi tantangan utama.
Dengan kontribusi masyarakat yang masih rendah—kurang dari Rp40 ribu per kepala keluarga (KK) per bulan—sulit bagi pengelola untuk menutup biaya angkutan, perawatan armada, hingga upah petugas.
Beban kerja petugas sampah tidak hanya soal mengangkut, tetapi juga menyangkut kesehatan, keselamatan kerja, hingga keberlangsungan hidup mereka.
Fakta di lapangan menunjukkan, banyak petugas justru lebih memilih pekerjaan ini karena jam kerja lebih fleksibel dan penghasilan tambahan masih bisa didapat dari aktivitas lain.
Namun, tanpa dukungan pembiayaan yang layak, keberlanjutan pengolahan sampah akan terhambat.
Artikel Terkait
Penegakan Hukum Lingkungan Mandek di Era Hanif Faisol, Pengamat Desak Presiden Lakukan Evaluasi
Kontroversi Tunjangan DPRD Tangsel: Rumah Pribadi Ada, Duit Puluhan Juta Tetap Mengalir
Warga Pondok Hijau Pertanyakan Legalitas Izin Pengembang Balboa, Mediasi Difasilitasi Lurah Pisangan
Tuntutan Ojol yang Bakal Ramai, Desak RUU Transportasi Online Rampung hingga Usut Tragedi Affan Kurniawan
Gubernur Banten Andra Soni Terima Kunjungan Sesmenko Bidang Kumham Imipas