Beruntung, kata Aep, reruntuhan tembok tidak langsung menimpa anaknya yang saat itu berada di ruang tengah.
Meskipun tidak mengalami luka serius, anaknya sempat syok dan kepalanya terkena benturan ringan akibat puing-puing yang berhamburan.
“Anak saya sempat terkena puing, tapi nggak berdarah. Cuma kaget dan belepotan kena lumpur. Untungnya masih bisa jalan, nggak perlu dibawa ke puskesmas,” katanya.
Pasca kejadian, Aep dan keluarganya terpaksa mengungsi sementara ke rumah anaknya yang berada di seberang jalan.
Baca Juga: Kanwil DJP Banten dan Gubernur Andra Soni Sinergi Gali Potensi Ekonomi Daerah
Beberapa penghuni kos lainnya juga mengungsi ke tempat kerabat atau mencari tempat tinggal sementara sendiri karena belum tersedia posko pengungsian resmi.
Saat ini, warga berharap bantuan dari pemerintah segera turun, terutama untuk kebutuhan konsumsi dan tempat tinggal sementara.
Selain itu, warga juga meminta ada evaluasi sistem drainase dan keamanan konstruksi bangunan di sekitar permukiman untuk mencegah kejadian serupa terulang kembali.
“Kami minta jangan sampai kejadian ini dianggap sepele. Tembok setinggi itu roboh karena hujan, berarti ada yang salah dengan sistem pembangunannya. Kami hanya warga kecil, tapi nyawa kami juga penting,” tutup Heru.
(***)
Artikel Terkait
Membangun Ketahanan Pakan Menuju Ketahanan Pangan: Jalan Terjal Petani dan Solusi Mandiri dari Tangsel
Nasib 6.139 PPPK Tangsel: Antara Harapan Pengakuan dan Tantangan Keadilan
BPK Temukan 209 Unit Aset Hilang, Sekretariat Daerah Tangsel Jadi Sorotan: Potensi Kerugian Capai Rp1,99 Miliar
Warga Sekitar SMAN 3 Tangsel Demo Damai Tuntut Keadilan Penerimaan SPMB Online 2025
PWI Tangsel Rayakan HUT Bhayangkara Ke-79, Perkuat Sinergitas dengan Polres Tangerang Selatan