Ju
Oleh: Junaidi Rusli
Pernyataan Fraksi Golkar yang mengkritik Sisa Lebih Pembiayaan Anggaran (SILPA) dalam laporan keuangan daerah pemerintah Kota Tangerang Selatan ( Tangsel ) namun tanpa menyebutkan besaran angkanya, patut dipertanyakan keseriusannya.
Kritik yang tidak disertai data atau angka yang konkret justru menunjukkan ketidaksiapan dan terkesan asal bicara, alih-alih menjadi bagian dari fungsi pengawasan yang konstruktif.
Dalam tradisi demokrasi, fungsi kontrol dari fraksi-fraksi di DPRD sangat penting untuk memastikan transparansi dan akuntabilitas pengelolaan anggaran daerah.
Namun, kontrol yang baik seharusnya didasarkan pada argumen yang kuat dan didukung oleh data yang jelas. Kritik terhadap SILPA, misalnya, semestinya disertai dengan perbandingan antara target dan realisasi anggaran, serta analisis penyebab timbulnya SILPA yang signifikan.
Tanpa menyebutkan besaran SILPA, publik menjadi tidak mendapat gambaran utuh atas substansi kritik tersebut. Apakah SILPA-nya tergolong besar sehingga menunjukkan ketidakefisienan belanja daerah, atau justru kecil dan tidak signifikan? Tanpa angka, kritik menjadi tidak informatif dan hanya bersifat retorika politik.
Padahal, SILPA bukan sekadar sisa anggaran yang tidak terpakai. Ia mencerminkan kinerja perencanaan dan eksekusi anggaran oleh pemerintah daerah.
SILPA yang terlalu besar bisa menjadi indikator lemahnya realisasi program prioritas, keterlambatan dalam pelelangan proyek, atau bahkan ketakutan dalam penggunaan anggaran akibat ketidakpastian regulasi.
Fraksi Golkar, yang notabene merupakan fraksi terbesar dan berpengalaman, yang sudah 3 periode menduduki Ketua DPRD Tangsel seharusnya bisa memberikan kritik yang lebih substansial.
Menyebutkan besaran SILPA, membeberkan rinciannya menurut pos anggaran, dan memberikan rekomendasi konkret, akan jauh lebih dihargai publik ketimbang kritik kosong yang terkesan hanya untuk menggugurkan kewajiban.
Kita berharap kritik di forum DPRD tidak hanya menjadi panggung politis, tapi benar-benar berkontribusi pada perbaikan tata kelola anggaran dan peningkatan kesejahteraan masyarakat.
Untuk diketahui APBD tahun 2024 diproyeksikan Rp Rp 4.574.371.306.654 dan terealisasi Rp4.498.470.692.841.
Artikel Terkait
Kejati Banten: “Kasus Tetap Berjalan”, Lambannya Penanganan Dugaan Korupsi Sampah DLHK Tangsel Picu Kecurigaan Publik
Lansia Harus Diberi Kesempatan Berkarya, Bukan Jadi Beban Negara: Seruan Ketua BP Lansia Jakarta
Transportasi Publik Tangsel Segera Diperbaharui, Pemkot Siapkan 33 Trayek Baru hingga Modernisasi Armada
Aksi Damai Warga di SMAN 10 Tangsel Tuntut Prioritas Zonasi: Lurah Sawah Baru Redam Ketegangan
Walikota Tangsel Tegaskan Komitmen Berantas Pungli di Dunia Pendidikan dalam Rapat Paripurna DPRD