”Nah sekarang dengan pendekatan kita bisa prediksi kemungkinan-kemungkian itu akan terjadi atau akan datang penyakit seperti yang kemarin Polio ujug-ujug muncul, padahal sejak tahun 1970 penyakit polio sudah dinyatakan hilang dari negara kita, terus juga cacar,”lanjut Pandji menjelaskan.
Pandji juga berharap, dengan potret kondisi Kabupaten Serang di bidang kesehatan yang sudah di sampaikan baik persoalan lingkungan, sanitasi, masalah suplai air bersih kepada Torika.
Akan tetapi, harapannya Korika sudah membaca persoalan-persoalan yang ada di Kabupaten Serang dengan bisa menganalisis, menganalisa nanti akan ada kesepakatan, kesepahaman mana yang harus di kerjakan oleh Kabupaten Serang mana yang menjadi tugas Korika.
”Karena tidak mungkin semuanya itu menjadi beban Korika, nanti akan ada shering, Korika memberikan saran perbaiki ini, benahi ini kami akan masuk di yang tidak mampu oleh Korika dilaksanakan oleh Kabupaten Serang,”paparnya.
Pendiri Korika Indra Kusuma mengatakan Korika adalah Kolaborasi Riset dan Inovasi Kecerdasan Artifisial yang di bidangi BPPT (Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi) dulunya, tapi kemudian fokus pada kuad helix yaitu government, universitas kemudian juga industri dan komunitas lainnya.
Tujuannya untuk memajukan kecerdasan artifisial misalnya bisa reformasi birokrasi, maritim dan agri culture, kesehatan dan lainnya.
”Kita tujuannya volunteering untuk memajukan kecerdasan artifisial di Indonesia, salah satunya sekarang kami datang untuk membantu di Indonesia mengembangkan sistem kesehatan yang lebih memakai kecerdasan artifisial. Yaitu, prediktif untuk operasionalnya lebih teliti karena perubahan iklim itu membuat tidak pasti, jadi sekarang kesulitannya jauh lebih tinggi daripada normal jadi kita pakai kecerdasan artifisial,”ujarnya.
Sambung Indra, bahwa perubahan iklim itu semua penyakit yang bahkan yang pernah ada dan yang belum pernah ada pun jika teorinya perubahan iklim membuat es mencair.
Selain es mencair perubahan virus yang ada di dalam es yang sudah zaman lalu bisa beredar di semua tempat, karena es mencair.
”Itu selain karena perubahan cuaca membuat seperti siklus malaria dan lainnya tidak pasti, kita bisa hujan dan panas kapan saja, sekarang suhu tidak tentu itu membuat penyakit itu menjadi tidak bisa diduga sama sekali kedatangannya. Kita ingin mudah-mudahan dengan membuat sistem yang lebih bagus kita bisa memprediksi lebih tepat kira-kira begitu,”jelasnya.(*)