Pasca bertemu di lapangan parkir, Kabidhumas Polda Banten langsung memperkenalkan diri dan keluarga yang dibawa serta kepada Jaro Saija.
“Kami datang tidak sendiri, namun bersama keluarga bahkan orangtua kami yang secara khusus juga ingin melihat keseharian dan kesederhanaan masyarakat adat Baduy terutama suku dalam,” kata Shinto Silitonga.
Jaro Saija yang saat itu ditemani oleh Kang Opek, warga Ciboleger yang kerap bersama Jaro Saija, tampak bersemangat dan bersedia mendampingi rombongan untuk berjalan ke Kampung Baduy di Cikeusik yang membutuhkan perjalanan lebih dari 1 jam dengan berjalan kaki.
Mengawali perjalanan, Jaro Saija menceritakan bahwa masyarakat adat Baduy terdiri dari Baduy Luar dan Baduy Dalam, yang dapat secara jelas dibedakan dari pakaian yang digunakan.
“Baduy Luar menggunakan telekung berwarna biru tua, baju komprang dominan hitam dan celana selutut sedangkan Baduy Dalam gunakan ikat kepala putih, baju pangsi putih dan kain tenun seperti sarung dengan tinggi selutut,” jelas Jaro Saija.
Pasca 25 menit perjalanan, Jaro Saija kemudian memasangkan koncer atau roma biru tua kepada Kabidhumas Polda Banten dan menghimbau rombongan untuk tidak lagi mengambil foto dalam perjalanan lanjutan ke Kampung Baduy Cikesik.
Dalam sturuktur pranata sosial masyarakat adat Suku Baduy, Jaro Saija dikenal sebagai Kepala Desa Kanekes, yang bertugas menjadi representasi Suku Baduy ke instansi pemerintah, badan usaha dan organisasi lainnya.
“Jika ada permasalahan yang perlu dikomunikasikan ke pihak luar, Jaro Saija-lah yang ditunjuk untuk menyampaikan itu kepada sasaran sebagai perwakilan dari masyarakat adat Suku Baduy,” jelas Kang Opek yang mendampingi rombongan Kabidhumas dalam perjalanan tersebut.