Wamena Cukup Sampai di Sini, Salah Satu Catatan Asro Kamal Rokan

photo author
- Rabu, 2 Oktober 2019 | 13:14 WIB

#Sosok - WAMENA berangsur pulih, Kelompok kriminal bersenjata, yang turun dari gunung dan melakukan pembakaran, telah kembali ke gunung. Beberapa lainnya ditangkap aparat keamanan. Namun ketakutan belum reda. Sekitar sepuluh ribu pendatang mengungsi.

Kerusuhan Wamena, Senin (23/9/2019) menyentakkan banyak orang, di saat perhatian tertuju pada unjuk rasa mahasiswa di berbagai kota, yang disebut-sebut ada penunggang. Jakarta terlihat sangat fokus pada aksi unjuk rasa -- bahkan disebut-sebut melibatkan Islam radikal, petugas medis, juga pendukung sepakbola. Wamena seakan sangat jauh.

Senin itu, gerombolan kriminal -- demikian biasa disebut -- membakar kota Wamena, mengejar, dan membunuh masyarakat sipil. Kepolisian mencatat, 33 orang tewas, ratusan lainnya mengalami luka, ratusan rumah dibakar.

Ini sungguh menyedihkan. Langit seakan runtuh di Wamena. Rasa kemanusiaan terguncang begitu keras. Kelompok bersenjata, yang selama ini berteriak tentang pelanggaran hak asasi manusia, justru melakukan pembantaian -- yang jauh dari kemanusiaan. Pembunuhan yang mereka lakukan, seperti kisah zaman purba, tanpa hukum.

Lihatlah tragedi dokter Soeko Marsetiyo. Dokter yang dengan sangat rela mengabadikan dirinya selama 15 tahun di Tolikora, terjebak dalam unjuk rasa. Soeko tewas di bumi yang dicintainya.

Hari itu, dokter Soeko menuju Wamena dari Puskesmas Talikora. Di Wamena, Soeko terjebak kerumunan masa pengunjuk rasa. Mobilnya dibakar. Soeko coba keluar, namun massa sangat biadab, membacoknya. Soeko tewas. Polisi menyebutkan, Soeko meninggal akibat cidera kepala, luka bacok, dan luka bakar di bagian punggung.

Sehari sebelum kematian yang tragis itu, menurut keluarga, dokter Soeko mengirim pesan pendek (SMS) kepada beberapa keluarga. Isi pesan pendek itu berupa potongan Ayat Kursi.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Redaksi

Rekomendasi

Terkini

X