Journalist Boarding School, Bangun Karakter “Siddiq, Amanah,Tabligh Fathanah”

photo author
Redaksi, Bidik Tangsel
- Minggu, 8 September 2019 | 23:13 WIB

Firdaus Zainuddin Dahlan, yang juga Ketua Bidang Organisasi PWI Pusat itu menjelaskan, JBS merupakan program berkelanjutan yang menyasar anak muda milenial dan kaum profesional untuk memiliki kemampuan jurnalistik, public relations, dan kehumasan. JBS juga bekerja sama dengan Dinas Pendidikan Provinsi Banten, dalam waktu dekat akan kerjasama dengan perguruan tinggi dan beberapa kementerian.

“Kami punya dua program. Pertama, Program Intensif, mukim dan tidak mukim yang bersifat reguler, dengan masa pendidikan dan pelatihan selama satu minggu, satu bulan, dan tiga bulan,” katanya.

Pada tahap pertama setelah pembukaan program, dibatasi 20 peserta. Mereka dibimbing oleh para profesional media, baik dalam pengenalan dan praktik-praktik berjurnalistik dan bermedia, maupun dalam eksplorasi etika profesi.

Kedua, Program Intersip, pendidikan selama setahun setara D1. Tiap peserta akan mendapat pembinaan dan pendidikan agam berupa tahfiz Alquran. “Ini menjadi standar nilai (way of life) yang harus dimiliki oleh setiap kader JBS. Lalu Program Intensif Mukim, yakni peserta program satu tahun untuk alumni SMU, dan sarjana,” tutur Firdaus yang juga Sekjen Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) Pusat itu.

Kurikulum JBS disusun dengan mengacu pada dasar-dasar penyampaian informasi (dakwah) yang berbasis sifat-sifat kenabian, yakni siddiq, amanah, tabligh, fathanah. Dengan karakter ini, nilai-nilai pendidikan ditransformasikan untuk membentuk anak-anak muda berkemampuan jurnalistik dengan tetap memegang prinsip-prinsip kebenaran dan keadilan sebagai way of life. “Kita bermaksud melawan realitas kondisi sekarang ini, yakni penyampaian informasi dan menerima informasi yang berkecenderungan membelakangi nilai-nilai kebenaran,” jelas Firdaus.

Program lain yang disiapkan oleh JBS adalah wisata religi. Program ini diperuntukkan bagi seluruh lapisan masyarakat yang berniat menyegarkan visi kehidupan dan ingin kembali kepada ketenangan dan kedamaian spiritual. JBS akan menyediakan tempat untuk berwisata religi dengan hunian tempat mukim yang setara hotel, tetapi tidak dengan kelengkapan fasilitas televisi. Peserta memang diajak melepaskan diri dari rutinitas kehidupan.

“Selain program-program keagamaan seperti shalat berjamaah dan berzikir, peserta kita ajak untuk menjalankan penyegaran aktivitas kemasyarakatan yang bersifat alternatif, seperti membuat batu bata, menyiangi tanaman, membuat tahu, dan sebagainya,” tuturnya.

Firdaus menambahkan, kurikulum JBS disusun antara lain dengan mengadopsi ide-ide yang diserap dari sejumlah koleganya yang berpengalaman berkiprah di dunia media. Maka terasa spirit kebangsaan dalam menopang konsep Jurnalisme Kenabian yang mentransformasi penyerapan dan pengayaan nilai-nilai. Untuk mendedikasikan sumbangan pikiran kawan-kawannya, Firdaus mengabadikan nama mereka untuk menandai nama setiap ruang, kamar, dan sudut bangunan JBS.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Redaksi

Rekomendasi

Terkini

X