Tangerang, bidiktangsel.com – Jalsah Salanah Indonesia 2025, pertemuan tahunan Jemaat Muslim Ahmadiyah, berlangsung khidmat dan terbuka di Masjid Mahmudah, Gondrong Kenanga, Kecamatan Cipondoh, Kota Tangerang, Sabtu (6/12-2025).
Acara yang menjadi bagian dari rangkaian Tasyakur 100 Tahun Ahmadiyah Indonesia (1925–2025) ini dihadiri sekitar 3.000 peserta dari berbagai wilayah.
Pertemuan berskala nasional ini tidak hanya dihadiri anggota Ahmadiyah, tetapi juga tokoh lintas agama, akademisi, pejabat pemerintah, serta masyarakat umum.
Kehadiran mereka menjadi penegasan bahwa kegiatan tahunan ini bersifat inklusif dan terbuka.
Rangkaian Acara Ceramah Keagamaan hingga Kebangsaan
Jalsah Salanah merupakan agenda internasional Ahmadiyah yang telah berlangsung sejak 1891, digagas oleh Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad a.s.
Tahun ini, rangkaian kegiatan di Indonesia digelar serentak di 23 titik dengan total peserta mencapai 24.000 orang.
“Jalsah Salanah adalah pertemuan tahunan yang terbuka untuk umum. Tidak hanya anggota Ahmadiyah, tetapi juga saudara-saudara kita dari NU, Muhammadiyah, tamu non-Muslim, tokoh agama, dan akademisi,” tutur Juru Bicara & Sekretaris Pers Jemaat Ahmadiyah Indonesia, Yendra Budiana, saat ditemui di lokasi acara.
Baca Juga: Menata Ulang Keadilan Ekonomi Media di Era Platform Digital
Menurut Yendra, kegiatan Jalsah berfokus pada ceramah keagamaan, sosial, dan kebangsaan yang bertujuan memperkuat hubungan manusia dengan Allah SWT, meningkatkan nilai moral, serta menumbuhkan rasa cinta tanah air.
“Tujuannya bukan hanya memperbaiki spiritualitas, tetapi juga mempererat silaturahmi dan memberi manfaat bagi bangsa dan negara,” tambahnya.
Hadir Tokoh NU, Akademisi, dan Persekutuan Gereja
Sejumlah tokoh hadir sebagai pembicara dan tamu undangan, di antaranya:
Artikel Terkait
Pemerintah Temukan Indikasi Pelanggaran, 12 Perusahaan Dianggap Berkontribusi pada Banjir Sumatera
Menkeu Purbaya Pastikan Dana Bencana Aman: Pemerintah Siapkan Tambahan Jika BNPB Ajukan
Selidiki Kayu Gelondongan yang Terbawa Arus saat Banjir Sumatera, Kemenhut Minta Waktu untuk Investigasi
Banjir dan Longsor di Sumatera, WALHI Soroti Hilangnya Hutan karena Negara yang Gampang Beri Izin Penggunaan Lahan
WALHI Beberkan Banyak Perusahaan Tambang Mangkir dari Kewajiban Reklamasi Usai Mengeruk Habis Kekayaan Alam