Pandeglang, bidiktangsel.com – Upacara adat Seba Baduy kembali digelar, menjadi pengingat kuat akan hubungan sakral antara manusia dan alam.
Dalam prosesi yang berlangsung di Pendopo Kabupaten Pandeglang pada Sabtu (3/5), masyarakat adat Baduy menyerahkan amanah penting kepada pemerintah dan masyarakat luas: menjaga kelestarian lingkungan sebagai bentuk tanggung jawab kolektif.
Seba Baduy bukan sekadar ritual tahunan, melainkan simbol penghormatan terhadap alam, rasa syukur atas hasil panen, dan penegasan kembali nilai-nilai hidup harmonis dengan lingkungan.
Baca Juga: Maarten Paes Buka Rahasia Taktik China Jelang Duel Penentu Kualifikasi Piala Dunia 2026
Dalam prosesi sakral tersebut, Jaro Saidi, salah satu tokoh adat Baduy, menyampaikan pesan spiritual dan ekologis yang mendalam.
“Urang nitipkeun Gunung Karang, Sumur Tujuh, Pulosari, Ranca Moyan, Gantarawang, Rawa Bedil, Batu Quran, Cikaduen jeung Sangiang Sirah,” ujar Jaro Saidi, menyebutkan sejumlah situs alam yang dianggap sakral oleh masyarakat Baduy.
Pesan itu bukan sekadar titipan simbolis, melainkan peringatan akan pentingnya menjaga situs-situs alam yang memiliki nilai ekologis dan spiritual tinggi.
Menurut Jaro, jika alam dijaga dengan baik, maka manusia pun akan dijauhkan dari bencana dan malapetaka.
“Ka cai jadi saleuwi, ka darat jadi salegok,” lanjutnya, mengutip ungkapan adat yang mencerminkan filosofi adaptasi dan keseimbangan hidup di tengah perubahan.
Ungkapan-ungkapan adat dalam Seba Baduy memiliki makna yang sangat dalam. Frasa "ka cai jadi saleuwi, ka darat jadi salegok" mencerminkan prinsip hidup masyarakat Baduy yang menjunjung tinggi keselarasan dengan alam dan kemampuan beradaptasi dalam berbagai kondisi lingkungan. Ini adalah bentuk kearifan lokal yang telah teruji selama ratusan tahun.
Kehadiran masyarakat Baduy ke pusat pemerintahan tidak hanya sebagai simbol silaturahmi, tetapi juga sebagai momentum refleksi bersama atas tanggung jawab terhadap keberlanjutan alam dan budaya.
Baca Juga: Kebebasan Pers di Titik Kritis: PWI Serukan Negara Hadir Aktif Pulihkan Ekosistem Media
Dalam konteks perubahan iklim dan kerusakan lingkungan yang semakin masif, pesan dari Seba Baduy menjadi sangat relevan dan mendesak.
Artikel Terkait
Seba Baduy 2025: Simbol Harmoni Alam dan Budaya, 1.769 Warga Baduy Sambangi Pendopo Lebak
Pemkab Pandeglang Tanggap Cepat Perbaiki Jalan Berlubang di Pertigaan Tenjolaya Meski Dalam Masa Efisiensi Anggaran
Satgas Motor Penggerak PAD: Strategi Baru Bupati Pandeglang Dorong Kemandirian Fiskal Daerah
AI Masuk Kurikulum Sekolah Mulai Tahun Ajaran 2025/2026: Strategi Pemerintah Siapkan Generasi Cakap Teknologi
Muscab ke V, Yenni Kusuma Kembali Pimpin IBI Kabupaten Serang