Seba Baduy di Pandeglang, Pesan Luhur Pelestarian Alam dari Masyarakat Adat

photo author
Radi Iswan, Bidik Tangsel
- Minggu, 4 Mei 2025 | 19:28 WIB
Seba Baduy Ke Pandeglang Titipkan Pelestarian Alam
Seba Baduy Ke Pandeglang Titipkan Pelestarian Alam

Pandeglang, bidiktangsel.com – Upacara adat Seba Baduy kembali digelar, menjadi pengingat kuat akan hubungan sakral antara manusia dan alam.

Dalam prosesi yang berlangsung di Pendopo Kabupaten Pandeglang pada Sabtu (3/5), masyarakat adat Baduy menyerahkan amanah penting kepada pemerintah dan masyarakat luas: menjaga kelestarian lingkungan sebagai bentuk tanggung jawab kolektif.

Seba Baduy bukan sekadar ritual tahunan, melainkan simbol penghormatan terhadap alam, rasa syukur atas hasil panen, dan penegasan kembali nilai-nilai hidup harmonis dengan lingkungan.

Baca Juga: Maarten Paes Buka Rahasia Taktik China Jelang Duel Penentu Kualifikasi Piala Dunia 2026

Dalam prosesi sakral tersebut, Jaro Saidi, salah satu tokoh adat Baduy, menyampaikan pesan spiritual dan ekologis yang mendalam.

“Urang nitipkeun Gunung Karang, Sumur Tujuh, Pulosari, Ranca Moyan, Gantarawang, Rawa Bedil, Batu Quran, Cikaduen jeung Sangiang Sirah,” ujar Jaro Saidi, menyebutkan sejumlah situs alam yang dianggap sakral oleh masyarakat Baduy.

Pesan itu bukan sekadar titipan simbolis, melainkan peringatan akan pentingnya menjaga situs-situs alam yang memiliki nilai ekologis dan spiritual tinggi.

Menurut Jaro, jika alam dijaga dengan baik, maka manusia pun akan dijauhkan dari bencana dan malapetaka.

Baca Juga: Maarten Paes Sesali Kartu Kuning karena Ulur Waktu, Absen Lawan China di Kualifikasi Piala Dunia 2026

“Ka cai jadi saleuwi, ka darat jadi salegok,” lanjutnya, mengutip ungkapan adat yang mencerminkan filosofi adaptasi dan keseimbangan hidup di tengah perubahan.

Ungkapan-ungkapan adat dalam Seba Baduy memiliki makna yang sangat dalam. Frasa "ka cai jadi saleuwi, ka darat jadi salegok" mencerminkan prinsip hidup masyarakat Baduy yang menjunjung tinggi keselarasan dengan alam dan kemampuan beradaptasi dalam berbagai kondisi lingkungan. Ini adalah bentuk kearifan lokal yang telah teruji selama ratusan tahun.

Kehadiran masyarakat Baduy ke pusat pemerintahan tidak hanya sebagai simbol silaturahmi, tetapi juga sebagai momentum refleksi bersama atas tanggung jawab terhadap keberlanjutan alam dan budaya.

Baca Juga: Kebebasan Pers di Titik Kritis: PWI Serukan Negara Hadir Aktif Pulihkan Ekosistem Media

Dalam konteks perubahan iklim dan kerusakan lingkungan yang semakin masif, pesan dari Seba Baduy menjadi sangat relevan dan mendesak.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Radi Iswan

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X